Sistem yang Sepenuhnya Bekerja
Febianti memastikan seluruh proses penerimaan di sekolahnya berjalan sesuai petunjuk teknis dan standar operasional yang telah ditetapkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.
Menurutnya, hasil seleksi sepenuhnya ditentukan oleh sistem.
Ia menjelaskan, perubahan mekanisme laman SPMB tahun ini menjadi penyebab utama munculnya kebingungan di masyarakat.
Jika tahun sebelumnya laman SPMB menggunakan rute atau jarak tempuh sebagai dasar penghitungan, kini sistem menggunakan radius berdasarkan titik garis lurus menuju sekolah.
Perubahan metode itu membuat hasil seleksi berbeda dengan persepsi masyarakat yang selama ini mengukur kedekatan berdasarkan akses jalan.
"Kalau dilihat kasat mata memang dekat. Tapi sekarang sistem mengambil radius titik garis terdekat, bukan lagi rute perjalanan seperti tahun lalu," ujarnya.
Karena belum memahami perubahan tersebut, banyak orang tua kemudian melapor ke Satgas SPMB.
"Mungkin itu yang menyebabkan sistemnya berubah juga, mereka juga kurang paham dengan sistem itu sehingga mereka mengadu ke satgas, kemudian cross check ke sekolah," ungkapnya.
Namun setelah dilakukan pemeriksaan bersama, sekolah dapat menunjukkan bahwa seluruh hasil penerimaan memang murni berasal dari sistem.
"Kami bisa membuktikan bahwa memang sistem yang bekerja, bukan panitia. Sama sekali tidak ada kecurangan. Kami bekerja sesuai juknis, SOP, dan aturan yang berlaku," tegasnya.
Meski diwarnai sejumlah protes, Febianti menilai pelaksanaan SPMB di SMP Negeri 22 secara umum berjalan lancar.
Hambatan yang muncul lebih banyak berasal dari proses adaptasi terhadap aplikasi baru.
"Sebenarnya perubahan aplikasi ini tidak menjadi hambatan bagi kami di sekolah. Yang masih membutuhkan penyesuaian justru masyarakat yang belum memahami mekanisme sistem yang baru," katanya.
Kuota Diturunkan Demi Kenyamanan Belajar
Pada tahun ajaran baru 2026/2027, SMP Negeri 22 menerima sebanyak 352 siswa.
Jumlah tersebut terbagi dalam 11 rombongan belajar (rombel) dengan masing-masing kelas berisi 32 siswa.
Jumlah itu justru lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya.
Jika sebelumnya satu kelas diisi hingga 35 siswa, tahun ini sekolah memilih mengurangi kapasitas agar proses belajar lebih nyaman.
Tag



