Arus Publik

RSUD dr. Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan

RSUD Kanujoso Balikpapan Latih 70 Tenaga Kesehatan Hadapi Kegawatdaruratan, Perkuat Sistem Code Blue

WORKSHOP - Selama dua hari, 25–26 Juli 2026, rumah sakit rujukan di Kalimantan Timur itu menggelar Workshop Manajemen Kegawatdaruratan dan Sistem Aktivasi Code Blue di Aula Sakura RSKD/ HO to Arusbawah.co

ARUSBAWAH.CO -  Hitungan menit sering kali menjadi penentu antara hidup dan mati saat kondisi darurat terjadi di rumah sakit.

Kesadaran itulah yang mendorong RSUD dr. Kanujoso Djatiwibowo (RSKD) Balikpapan terus memperkuat kompetensi tenaga kesehatan melalui pelatihan berkelanjutan.

Selama dua hari, 25–26 Juli 2026, rumah sakit rujukan di Kalimantan Timur itu menggelar Workshop Manajemen Kegawatdaruratan dan Sistem Aktivasi Code Blue di Aula Sakura RSKD.

Sebanyak 70 tenaga kesehatan mengikuti pelatihan yang memadukan teori, demonstrasi, hingga simulasi praktik menghadapi situasi darurat.

Peserta tidak hanya berasal dari lingkungan internal rumah sakit. Sebanyak 24 tenaga kesehatan datang dari berbagai puskesmas dan klinik di Balikpapan, Sangatta, hingga Babulu.

Kehadiran mereka menjadi bagian dari upaya memperkuat kemampuan penanganan kegawatdaruratan di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.

Workshop dibuka oleh Wakil Direktur SDM dan Pendidikan, Pelatihan, Penelitian RSUD dr. Kanujoso Djatiwibowo, Novita Retno Damayanti.

Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa peningkatan kompetensi tenaga kesehatan kini bukan lagi sekadar kewajiban administratif, melainkan kebutuhan yang harus dipenuhi agar pelayanan kesehatan tetap bermutu dan berorientasi pada keselamatan pasien.

Menurut Novita, kemampuan tenaga kesehatan harus terus diperbarui melalui pendidikan dan pelatihan agar mampu menjawab tantangan pelayanan kesehatan yang semakin kompleks.

Sebagai rumah sakit rujukan di Kalimantan Timur, RSKD juga memikul tanggung jawab untuk menjadi pusat pengembangan kompetensi, tidak hanya bagi tenaga kesehatan internal, tetapi juga bagi tenaga kesehatan di berbagai fasilitas pelayanan lainnya.

Wakil Direktur SDM dan Pendidikan, Pelatihan, Penelitian RSUD dr. Kanujoso Djatiwibowo, Novita Retno Damayanti/ HO to Arusbawah.co

 

Ia menambahkan, RSKD Learning Center telah terakreditasi sebagai lembaga pelatihan tenaga kesehatan.

Karena itu, berbagai program peningkatan kompetensi akan terus dilaksanakan secara berkesinambungan.

Khusus bagi tenaga kesehatan internal, pelatihan kegawatdaruratan akan dijadikan agenda penyegaran rutin setiap tahun agar kemampuan tetap sesuai dengan standar pelayanan.

Simulasi Penanganan Darurat dari Bayi hingga Dewasa

Selama workshop berlangsung, peserta mendapatkan materi yang mencakup berbagai aspek penanganan kegawatdaruratan.

Mulai dari Airway and Breathing, Basic Life Support (BLS), Return of Spontaneous Circulation (ROSC), Neonatal Advanced Life Support (NALS/NRP), Pediatric Advanced Life Support (PALS), penggunaan Automated External Defibrillator (AED), hingga simulasi aktivasi Code Blue yang melibatkan kolaborasi lintas profesi.

Penanggung jawab Code Blue RSKD, dr. Benny Indrajaya, Sp.An-TI, mengatakan sistem aktivasi Code Blue perlu dipahami seluruh tenaga kesehatan karena kondisi darurat tidak hanya dialami pasien dewasa.

Menurutnya, rumah sakit juga harus siap menghadapi kegawatdaruratan pada bayi maupun anak.

"Selama ini Code Blue identik dengan penanganan henti jantung pada pasien dewasa. Namun di rumah sakit, kondisi kegawatdaruratan juga dapat terjadi pada bayi dan anak. Oleh karena itu, dalam workshop ini kami mengintegrasikan konsep Code Blue dengan Code White, sehingga peserta memiliki pemahaman yang utuh mengenai tata laksana kegawatdaruratan pada seluruh kelompok usia," jelasnya.

Ia menerangkan bahwa sistem penanganan kegawatdaruratan terdiri atas dua tahapan utama.

Tahap pertama adalah mengenali lebih awal kondisi pasien yang mengalami kegawatan. Proses ini dapat dilakukan siapa saja, mulai dari tenaga nonmedis hingga tenaga kesehatan.

Tahap berikutnya adalah penanganan lanjutan oleh tim medis terlatih melalui tindakan resusitasi, stabilisasi pasien, hingga memastikan proses transportasi menuju ruang perawatan intensif atau ICU berlangsung aman.

Menurut Benny, rangkaian kemampuan tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun sistem respons kegawatdaruratan yang cepat, tepat, terkoordinasi, dan berorientasi pada keselamatan pasien.

Workshop ini menghadirkan sejumlah narasumber berpengalaman di bidang kegawatdaruratan, di antaranya dr. Syahyat Aryamehr, Sp.An., Subsp.T.I(K), dr. Benny Indrajaya, Sp.An-TI, dr. Daniel Susatyo Wirawan, Sp.A, dr. Tyas Rahmaditia, Sp.A, Ns. Yuliha Sarah, S.Kep., Ns. Ananta Primayoga, S.ST., serta Ns. Zahrotul Wardah, S.Kep., M.Kep.

Selain materi di kelas, peserta juga mengikuti berbagai simulasi yang dirancang menyerupai kondisi darurat di lingkungan pelayanan kesehatan.

Melalui pendekatan tersebut, RSKD berharap tenaga kesehatan tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki kesiapan saat harus mengambil keputusan cepat untuk menyelamatkan nyawa pasien. (sobizz/red)

 

Tag

MORE