Arus Publik

Sobizz Goes Public

RSKD Kanujoso Bangun Sistem First Responder dari Tenaga Non-Medis

Penguatan SDM Jadi Fokus dalam Sistem Respons Darurat

Selasa, 28 April 2026 14:28

PELATIHAN - Sistem first responder RSKD libatkan tenaga non-medis demi respons cepat situasi darurat pasien/ Foto: RSUD dr. Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan

ARUSBAWAH.CO - Kegawatdaruratan medis dapat terjadi kapan saja tanpa mengenal lokasi di lingkungan rumah sakit

Kasus seperti henti jantung, henti napas, hingga tersedak tidak hanya terjadi di ruang perawatan, tetapi juga di area publik seperti koridor, ruang tunggu, hingga parkiran. 

Dalam situasi tersebut, tenaga non-medis kerap menjadi pihak pertama yang menemukan kejadian sebelum tenaga kesehatan tiba. 

Kondisi ini mendorong perlunya sistem keselamatan pasien yang tidak hanya bergantung pada tenaga medis. 

Rumah sakit dituntut membangun sistem yang melibatkan seluruh sumber daya manusia secara terintegrasi.

RSUD dr. Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan mengembangkan kebijakan strategis dengan membangun sistem first responder berbasis tenaga non-medis

Kebijakan ini menempatkan petugas administrasi, keamanan, cleaning service, dan tenaga penunjang lainnya sebagai bagian penting dalam rantai awal penanganan kegawatdaruratan.

Langkah ini menjadi bagian dari transformasi sistem keselamatan pasien yang lebih inklusif dan adaptif terhadap kondisi lapangan.

Sistem First Responder dan Pelatihan BHD Jadi Pilar Utama

Pelatihan Bantuan Hidup Dasar menjadi fondasi utama dalam membentuk kesiapan tenaga non-medis

Program ini dirancang untuk memberikan pemahaman mengenai pengenalan dini kondisi darurat serta kemampuan melakukan respons awal yang sesuai standar. 

Peserta dilatih mengenali tanda henti jantung, henti napas, hingga kasus tersedak, serta melakukan tindakan seperti aktivasi kode biru dan Resusitasi Jantung Paru dasar.

Dalam implementasinya, rumah sakit menerapkan skala prioritas berdasarkan tingkat risiko kerja dan intensitas interaksi dengan pasien. 

Pendekatan ini memastikan pelatihan tepat sasaran dan memberikan dampak maksimal, terutama di area dengan potensi kejadian darurat yang lebih tinggi.

Tenaga non-medis berperan sebagai first responder dengan melakukan penilaian awal kondisi korban, memastikan keamanan lingkungan, serta segera mengaktifkan sistem kode biru. 

Selain itu, mereka juga dapat membantu membuka jalur evakuasi, mengatur kerumunan, hingga melakukan tindakan dasar jika telah memiliki kompetensi. 

Peran ini menjadi krusial karena fase awal kejadian sering kali menentukan keselamatan pasien sebelum tim medis mengambil alih.

Evaluasi, Akreditasi, dan Penguatan Sistem Berkelanjutan

Plt Direktur RSUD dr. Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan, drg. Ahmad Jais, M.H., M.A.R.S, menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan bentuk komitmen dalam membangun budaya keselamatan pasien yang menyeluruh. 

Ia menyebut bahwa setiap unsur di rumah sakit harus memiliki kesiapsiagaan dalam menghadapi kondisi darurat, mengingat menit awal sangat menentukan keselamatan pasien.

Dari sisi evaluasi, efektivitas pelatihan diukur melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta, termasuk melalui simulasi praktik langsung. 

Namun, penguatan evaluasi di tahap implementasi nyata masih terus dikembangkan, khususnya dalam mengukur kecepatan respons dan aktivasi sistem kode biru di lapangan.

Program ini juga berkontribusi terhadap pemenuhan standar akreditasi rumah sakit, terutama dalam aspek keselamatan pasien dan mutu pelayanan. 

Ke depan, pelatihan Bantuan Hidup Dasar akan dikembangkan menjadi program berkelanjutan melalui pelatihan ulang, simulasi rutin, serta drill kode biru secara berkala.

Kesimpulannya, sistem first responder berbasis tenaga non-medis menjadi langkah strategis dalam memperkuat keselamatan pasien secara menyeluruh. 

Kebijakan ini tidak hanya meningkatkan kesiapsiagaan, tetapi juga mempertegas komitmen rumah sakit dalam menghadirkan pelayanan yang aman, responsif, dan terintegrasi. (sobizz/naa)

Tag

MORE