Arus Publik

Pemprov Kaltim

Rp206 Miliar Sudah Digelontorkan, Rp90 Miliar Belum Dilelang, Jalan Tering–Ujoh Bilang Masih Sisakan 13,6 Km Tanpa Status

Selasa, 17 Maret 2026 22:11

TINJAU - Wagub Seno Aji tinjau kondisi jalan poros dari Kecamatan Tering, Kutai Barat menuju Ujoh Bilang, Mahakam Ulu/ HO to Arusbawah.co

ARUSBAWAH.CO -  Wakil Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Seno Aji meninjau langsung kondisi jalan poros dari Kecamatan Tering, Kutai Barat menuju Ujoh Bilang, Mahakam Ulu, Minggu, (15/3/2026).

Ruas sepanjang 136 kilometer itu masih menyisakan persoalan lama yaitu jalan belum sepenuhnya tembus mulus, sebagian titik masih jadi kubangan saat hujan, dan progres pekerjaan belum merata.

Pembagian Kewenangan Sudah Jelas, Masalah Tetap Muncul di Lapangan

Di atas dokumen perencanaan, pembagian kewenangan sudah jelas.

Ada jalan Nasional, ada jalan provinsi hingga jalan Kabupaten.

Segmen kilometer 0–10 ditangani Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) dengan menggunakan dana APBN.

Lalu untuk KM 10–41 dikerjakan oleh Dinas PUPR Kaltim lewat dana APBD provinsi.

Berikutnya KM 41–117 kembali dikerjakan BBPJN juga menggunakan dana APBN.

Sementara KM 117–136 menjadi tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu.

Namun di lapangan, persoalan muncul di titik-titik jalan yang tak sepenuhnya terakomodasi dalam skema itu.

Disebutkan, masih ada sekitar 13,6 kilometer ruas non-status tidak jelas masuk kewenangan siapa yang hingga kini belum tertangani optimal.

Ruas Non-Status 13,6 Km Jadi Titik Kritis

Seno mempersoalkan titik itu sebagai pekerjaan rumah paling krusial jika target penyelesaian 2027 ingin dikejar.

“Supaya masyarakat bisa lewat dengan nyaman, tidak berlumpur,” katanya Seno Aji, merangkum inti persoalan yang selama ini dikeluhkan warga.

Proyek Rp90 Miliar Masih Tahap Lelang

Paparan dari BBPJN justru membuka persoalan lain.

BBPJN menyebutkan, untuk tahun anggaran 2026, paket pekerjaan senilai kurang lebih Rp90 miliar masih berada di tahap persiapan lelang.

Rinciannya, tiga paket pekerjaan masing-masing sekitar Rp30 miliar untuk penanganan 7,6 kilometer, ditambah tujuh titik lain dengan nilai sekitar Rp18 miliar.

Seno kemudian mempertanyakan lambannya proses pelelangan tersebut.

“Baru persiapan lelang? Kenapa?” ujar Seno Aji melalui radio komunikasi saat proses perjalanan peninjauan.

Pihak BBPJN menjelaskan, proses sempat tertahan karena menunggu pergeseran anggaran serta penyusunan Rencana Umum Pengadaan (RUP).

Lelang itu dijanjikan BBPJN baru akan dipercepat setelah Lebaran idul fitri ini.

Jawaban yang terdengar administratif itu kontras dengan kondisi di lapangan yang butuh kepastian cepat.

 

Kebutuhan Anggaran dan Pilihan Konstruksi

Di sisi lain, kebutuhan anggaran untuk menuntaskan sisa ruas juga tidak kecil.

Jika menggunakan rigid atau beton, estimasi biaya disebut BBPJN mencapai sekitar Rp10 miliar per kilometer.

Artinya, untuk 13,6 kilometer diperlukan sekitar Rp130 miliar.

Kata BBPJN, alternatif lebih ringan memang ada.

Menggunakan lapisan material granular, seperti pasir, kerikil, atau batu pecah, yang digunakan bersama pengikat (semen/aspal) untuk membuat beton atau aspal, kebutuhan anggaran bisa ditekan di kisaran Rp40–50 miliar, bahkan lebih rendah jika memanfaatkan material lokal tanpa impor.

Namun, pilihan itu disebut membawa konsekuensi pada daya tahan jalan, terutama di wilayah dengan kontur terjal dan curah hujan tinggi seperti Mahakam Ulu.

Anggaran Rp206 Miliar Sudah Digelontorkan, Dampak Belum Merata

Dihimpun Arusbawah.co dari data Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SIRUP) Dinas PUPR Kaltim menunjukkan, pada 2025 lalu Pemprov sudah mengalokasikan sekitar Rp206 miliar untuk pembangunan ruas TeringUjoh Bilang.

Anggaran itu digunakan untuk membangun 28,175 kilometer jalan dengan konstruksi beton kaku.

Selain itu, ada empat paket proyek jalan dengan nilai masing-masing di kisaran Rp48–53 miliar, serta satu paket pembangunan jembatan senilai Rp12,7 miliar.

Angka anggaran terbilang besar.

Tapi dampaknya di lapangan terlihat justru belum sepenuhnya merata.

Titik Rawan di Kilometer 51

Di kilometer 51, misalnya, Seno Aji menunjukkan langsung kondisi jalan yang masih jadi titik rawan curam dan berlumpur.

Tanjakan curam berpadu dengan permukaan jalan yang mudah rusak saat hujan, membuat kendaraan kerap terjebak hingga tidak bisa melintas.

“Ini salah satu titik yang sering bikin orang susah lewat. Kita upayakan tahun ini dilapisi agregat dulu, biar sementara bisa dilewati,” katanya.

Target 2027 dan Pola Pekerjaan Bertahap

Pendekatan seperti itu memastikan jalan bisa dilalui lebih dulu, baru disempurnakan kemudian jadi pola yang terus berulang.

Di satu sisi, solusi itu menjawab kebutuhan mendesak masyarakat.

Tapi di sisi lain, berpotensi menambah beban anggaran di tahap berikutnya.

Seno Aji menegaskan percepatan perbaikan jalan poros Tering-Ujong Bilah tetap jadi target utama Pemprov Kaltim.

Ia ingin seluruh segmen dari Tering hingga Ujoh Bilang bisa terhubung tanpa hambatan pada 2027 mendatang.

“Semakin cepat selesai, masyarakat juga semakin cepat merasakan manfaatnya,” demikian kata Seno Aji.

(wan)

 

Tag

MORE