Seno kemudian mempertanyakan lambannya proses pelelangan tersebut.
“Baru persiapan lelang? Kenapa?” ujar Seno Aji melalui radio komunikasi saat proses perjalanan peninjauan.
Pihak BBPJN menjelaskan, proses sempat tertahan karena menunggu pergeseran anggaran serta penyusunan Rencana Umum Pengadaan (RUP).
Lelang itu dijanjikan BBPJN baru akan dipercepat setelah Lebaran idul fitri ini.
Jawaban yang terdengar administratif itu kontras dengan kondisi di lapangan yang butuh kepastian cepat.
Kebutuhan Anggaran dan Pilihan Konstruksi
Di sisi lain, kebutuhan anggaran untuk menuntaskan sisa ruas juga tidak kecil.
Jika menggunakan rigid atau beton, estimasi biaya disebut BBPJN mencapai sekitar Rp10 miliar per kilometer.
Artinya, untuk 13,6 kilometer diperlukan sekitar Rp130 miliar.
Kata BBPJN, alternatif lebih ringan memang ada.
Menggunakan lapisan material granular, seperti pasir, kerikil, atau batu pecah, yang digunakan bersama pengikat (semen/aspal) untuk membuat beton atau aspal, kebutuhan anggaran bisa ditekan di kisaran Rp40–50 miliar, bahkan lebih rendah jika memanfaatkan material lokal tanpa impor.
Namun, pilihan itu disebut membawa konsekuensi pada daya tahan jalan, terutama di wilayah dengan kontur terjal dan curah hujan tinggi seperti Mahakam Ulu.
Anggaran Rp206 Miliar Sudah Digelontorkan, Dampak Belum Merata
Dihimpun Arusbawah.co dari data Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SIRUP) Dinas PUPR Kaltim menunjukkan, pada 2025 lalu Pemprov sudah mengalokasikan sekitar Rp206 miliar untuk pembangunan ruas Tering–Ujoh Bilang.
Anggaran itu digunakan untuk membangun 28,175 kilometer jalan dengan konstruksi beton kaku.
Selain itu, ada empat paket proyek jalan dengan nilai masing-masing di kisaran Rp48–53 miliar, serta satu paket pembangunan jembatan senilai Rp12,7 miliar.
Tag



