ARUSBAWAH.CO - Produksi padi Kalimantan Timur (Kaltim) mengalami peningkatan sepanjang tahun 2024.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, total produksi padi di provinsi ini mencapai 249,64 ribu ton Gabah Kering Giling (GKG).
Angka ini naik hampir 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 227 ribu ton.
Namun, tidak semua daerah mengalami tren kenaikan. Sejumlah kabupaten/kota justru menunjukkan penurunan produksi meski masih menduduki posisi atas.
Kutai Kartanegara Terbesar, Tapi Produksi Menurun
Kutai Kartanegara masih menjadi daerah dengan produksi padi terbesar di Kalimantan Timur.
Sepanjang 2024, kabupaten ini mencatat produksi sebesar 106,55 ribu ton GKG dari luas panen 26.031 hektare.
Meski masih menjadi yang tertinggi, angka tersebut justru turun dibandingkan 2023 yang mencapai 115,10 ribu ton GKG.
Paser dan PPU Catat Lonjakan Signifikan
Kenaikan terbesar justru datang dari Kabupaten Paser yang berhasil mencatat produksi padi sebanyak 52,89 ribu ton GKG, naik tajam dari 45,10 ribu ton di tahun sebelumnya.
Kenaikan juga terjadi di Penajam Paser Utara (PPU) yang memproduksi 48,13 ribu ton GKG, meningkat signifikan dari 28,61 ribu ton tahun lalu.
Samarinda Nyaris Dua Kali Lipat
Menariknya, Kota Samarinda mencatat pertumbuhan yang mengesankan.
Produksi padi ibu kota provinsi ini hampir dua kali lipat, dari 5,18 ribu ton GKG (2023) menjadi 9,28 ribu ton GKG pada 2024, dengan luas panen mencapai 2.186 hektare.
Wilayah Lain: Stagnan hingga Menurun
Sementara itu, kabupaten seperti Kutai Timur (16,69 ribu ton GKG) dan Berau (13,94 ribu ton GKG) mengalami stagnasi bahkan penurunan produksi.
Berau, misalnya, tahun lalu mencatat 20,50 ribu ton GKG.
Di sisi lain, daerah seperti Kutai Barat (1,35 ribu ton), Mahakam Ulu (0,68 ribu ton), dan Balikpapan (0,13 ribu ton) tetap berada di posisi bawah dalam kontribusi produksi padi.
Bontang Praktis Tanpa Produksi
Yang paling menonjol adalah Kota Bontang.
Sepanjang 2024, kota industri ini praktis tidak mencatat produksi padi. Luas panennya hanya tersisa 0,11 hektare, jauh menurun dari 41,47 hektare pada 2023.
Kesimpulan
Peningkatan produksi padi di Kalimantan Timur menjadi sinyal positif terhadap ketahanan pangan daerah.
Meski demikian, distribusi kontribusi masih timpang, dengan dominasi Kutai Kartanegara, Paser, dan PPU.
Pemerintah daerah diharapkan dapat memperkuat dukungan infrastruktur dan teknologi pertanian, terutama di wilayah yang produksinya masih minim. (pra)




