ARUSBAWAH.CO - Di banyak sudut Rukun Tetangga (RT) di Samarinda, papan proyek kecil bertuliskan “Probebaya” bukan sekadar penanda kegiatan.
Di sana ada jalan gang yang dicor, drainase yang dibenahi, hingga kegiatan pemberdayaan warga yang lahir dari musyawarah tingkat paling bawah.
Namun memasuki periode kedua kepemimpinan Wali Kota Andi Harun, satu pertanyaan mulai mengemuka: bagaimana nasib Probebaya jika tongkat estafet kepemimpinan Samarinda berganti?
Isu inilah yang akan dibedah dalam Diskusi Publik bertajuk keberlanjutan Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat (Probebaya), yang digelar Minggu, 15 Februari 2026, pukul 12.00–16.00 WITA di Samarinda.
Diskusi Publik ini diinisiasi oleh media online Arusbawah.co.
Direktur PT Suara Arusbawah, Yakub Anani, menilai momen ini penting bukan untuk menyerang kebijakan, melainkan memastikan arah program tetap berpihak pada warga.
“Probebaya ini sudah menyentuh level paling bawah, RT. Justru karena dampaknya langsung ke masyarakat, kita perlu memastikan program ini tidak berhenti di tengah jalan atau berubah arah tanpa evaluasi yang matang,” ujar Yakub.

Probebaya: Dari Partisipasi Warga ke Isu Keberlanjutan
Probebaya yang mulai berjalan sejak 2021 dirancang dengan prinsip transparansi, partisipasi, akuntabilitas, dan keberlanjutan.
Warga RT dilibatkan dalam perencanaan hingga pengawasan kegiatan.
Dalam beberapa tahun terakhir, program ini berkembang hampir ke seluruh RT di Samarinda.
Namun menurut Yakub, keberhasilan administratif belum tentu menjawab semua tantangan substantif.
Ada empat pertanyaan besar yang akan menjadi fokus diskusi publik.
Tag



