ARUSBAWAH.CO - Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) mulai menulis sejarah baru dalam sektor energi Kalimantan Timur.
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batoq Kelo berkapasitas 300 megawatt (MW) resmi memulai pembangunan melalui peletakan batu pertama yang dilakukan di Pendopo Odah Etam, Samarinda.
Proyek senilai Rp13 triliun tersebut menjadi PLTA berskala besar pertama di Kalimantan Timur. Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, pembangkit ini ditargetkan mulai beroperasi pada 2030.
Groundbreaking dilakukan oleh Utusan Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim S. Djojohadikusumo bersama Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas'ud, Wakil Gubernur Seno Aji, Bupati Mahulu Angela Idang Belawan, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya.
Di balik seremoni tersebut, ada pertanyaan yang lebih besar: seberapa besar dampak PLTA Batoq Kelo terhadap ketergantungan Kalimantan Timur pada listrik berbasis batu bara?
Batu Bara Masih Jadi Tulang Punggung Kelistrikan Kaltim
Data Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalimantan Timur menunjukkan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) masih mendominasi sumber energi listrik di provinsi ini.
Berdasarkan data energi daerah, kapasitas PLTU di Kaltim mencapai sekitar 833 MW yang tersebar pada 21 unit pembangkit.
Sementara kapasitas PLTG berada di kisaran 430 MW dengan 23 unit pembangkit.
Dominasi PLTU tersebut menunjukkan bahwa batu bara masih menjadi tulang punggung sistem kelistrikan Kalimantan Timur.
Ketergantungan itu sebenarnya tidak mengherankan. Kaltim merupakan salah satu daerah penghasil batu bara terbesar di Indonesia sehingga pasokan bahan bakar untuk PLTU relatif mudah diperoleh.
Dalam dua dekade terakhir, pembangunan pembangkit listrik di daerah ini juga lebih banyak bertumpu pada energi fosil dibanding energi terbarukan.
Sistem Mahakam yang memasok kebutuhan listrik Samarinda, Balikpapan, Bontang, dan Tenggarong selama ini juga ditopang oleh sejumlah pembangkit besar berbasis batu bara, termasuk PLTU Teluk Balikpapan.
Satu PLTA Setara Sepertiga Kapasitas PLTU Kaltim
Jika dibandingkan dengan total kapasitas PLTU yang saat ini mencapai sekitar 833 MW, maka kapasitas PLTA Batoq Kelo sebesar 300 MW tergolong signifikan.
Secara matematis, kapasitas PLTA tersebut setara sekitar 36 persen dari total kapasitas PLTU yang saat ini beroperasi di Kalimantan Timur.
Artinya, hanya dari satu proyek pembangkit, Mahulu berpotensi menyumbang tambahan energi yang nilainya mendekati sepertiga kapasitas pembangkit batu bara yang ada saat ini.
Meski demikian, kehadiran PLTA Batoq Kelo belum otomatis menghapus dominasi PLTU. Sebab dalam sistem kelistrikan, pembangkit baru akan menjadi bagian dari jaringan yang lebih besar dan harus menyesuaikan kebutuhan beban listrik yang terus meningkat, termasuk kebutuhan energi untuk kawasan industri dan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Kementerian ESDM sebelumnya bahkan memperkirakan kebutuhan tambahan kapasitas pembangkit di Kalimantan Timur akan terus meningkat seiring pembangunan kawasan strategis nasional, termasuk IKN. (pra)
- Ini Orang Indonesia Pertama yang Sejajar dengan Harrison Ford dalam Daftar Tokoh Dunia
- Benarkah PLTA Mentarang Malinau Rendah Karbon? Simak Fakta di Balik Proyek Raksasa Digroundbreaking Jokowi
- Orang Muda Desak Hentikan Solusi Palsu di Tengah Krisis Iklim yang Kian Brutal
- 5 Request Orang Muda Demi Bumi Lebih Bersih




