Pesilat asal Kota Bontang, Fitri Mawarni, sukses mempersembahkan medali perunggu untuk Indonesia pada 10th Asian Pencak Silat Championship 2026, sekaligus menambah daftar atlet binaan IPSI Kaltim yang mampu bersaing di tingkat Asia.
Bagi Seno Aji, deretan prestasi tersebut menjadi modal berharga. Namun ia mengingatkan bahwa medali bukanlah garis akhir.
"Kalau hari ini kita juara, jangan merasa sudah selesai. Justru itu menjadi motivasi untuk bekerja lebih keras lagi. Atlet-atlet muda harus disiapkan dari sekarang agar estafet prestasi tidak pernah terputus," katanya.
Ia ingin kepengurusan IPSI Kaltim menjadi rumah besar bagi seluruh perguruan pencak silat tanpa membedakan latar belakang.
Menurutnya, perbedaan bukan alasan untuk berjalan sendiri-sendiri, melainkan kekuatan yang harus dirangkul demi kemajuan olahraga pencak silat di Kalimantan Timur.
"Silat mengajarkan kita menghormati lawan, menghargai guru, dan menjaga persaudaraan. Nilai-nilai itu jangan hanya hidup di gelanggang pertandingan, tetapi juga menjadi budaya dalam organisasi."
Seno Aji meyakini, keberhasilan IPSI tidak hanya diukur dari banyaknya medali yang diraih.
Lebih dari itu, organisasi harus mampu melahirkan generasi muda yang disiplin, rendah hati, berkarakter, dan bangga terhadap warisan budaya bangsa.
"Kalau nanti ada anak-anak Kalimantan Timur yang bermimpi menjadi juara dunia karena terinspirasi oleh atlet-atlet kita hari ini, itu adalah kemenangan yang jauh lebih besar daripada sekadar medali." katanya.





