ARUSBAWAH.CO - Warga Kecamatan Sungai Kunjang, Samarinda, diguncang tragedi ketika dua balita, AM (4) dan MA (2), ditemukan tewas di rumah mereka.
Ayah kandung mereka, WH, menjadi pelaku pembunuhan.
Keluarga ayah kandung balita mengungkap bahwa WH sebelumnya dikenal sebagai pribadi pendiam, namun penyayang.
Kronologi Pembunuhan Balita di Samarinda
Dalam sebulan terakhir, WH mengalami perubahan perilaku drastis akibat sakit lambung dan tenggorokan, kehilangan pekerjaan, serta tekanan rumah tangga, termasuk permintaan cerai dari istrinya.
Kejadian memilukan itu terjadi saat WH sendirian di rumah bersama anak-anak.
Ia diduga sempat mencoba bunuh diri, namun digagalkan oleh ibunya.
Keluarga dan tetangga tak menyangka tragedi ini bisa terjadi, karena WH tidak menunjukkan tanda-tanda mengkhawatirkan secara terbuka.
Psikolog Ayunda Ramadhani menyebut kasus ini termasuk filicide, pembunuhan anak oleh orang tua kandung, dan menekankan perlunya pemeriksaan kejiwaan terhadap WH.
Ia juga menyoroti pentingnya deteksi dini gangguan mental, khususnya dalam keluarga muda dengan tekanan ekonomi dan emosional tinggi.
Ayunda mengingatkan bahwa anak-anak tidak boleh menjadi korban dari masalah orang tua, dan mendorong masyarakat untuk lebih peka serta berani mencari bantuan saat menghadapi tekanan hidup.
Apa Itu Filicide?
Menurut jurnal perilaku kriminal dan kesehatan mental berjudul “Filicide – A Comparative Study of Maternal versus Paternal Child Homicide”, filicide atau filisida merupakan istilah yang merujuk pada pembunuhan anak oleh orang tua, baik oleh ayah maupun ibu.
Pada masa lampau, tindakan filicide kerap dijadikan cara untuk mengatur jumlah anggota keluarga serta mengeliminasi anak-anak yang dianggap lemah, mengalami kelainan, memiliki cacat fisik, atau dilahirkan di luar pernikahan.
Praktik filicide ini juga kerap digunakan untuk membatasi kelahiran anak perempuan.
Meskipun demikian, filicide berupa pembunuhan terhadap anak perempuan yang tidak diinginkan masih ditemukan di sejumlah negara berkembang hingga kini.
- Terungkap Sisi Lain Kehidupan WH, Ayah yang Habisi Dua Anak Kandung: Dari Sakit, Istri Minta Cerai, hingga Coba Bunuh Diri
- Pria 21 Tahun Ditemukan Tewas Tenggelam di Lubang Bekas Tambang di Kukar, Jatam Kaltim: Ini Berulang
- Menteri ESDM Baru Tahu Adanya Tambang Ilegal di IKN dari Media, Bahlil Lahadalia: Itu Kan Enggak Ada Izinnya
Jenis-Jenis Filicide
Filicide diketahui memiliki empat jenis atau kategori, yakni sebagai berikut:
1. Filicide Patologis
Filicide patologis ialah ketika tindakan pembunuhan dipengaruhi secara dominan oleh gangguan psikologis berat pada pelaku.
Jenis filicide patologis ini mencakup beberapa subkategori, yakni filicide altruistik, filicide dalam konteks bunuh diri yang berkepanjangan, dan filicide akibat psikotik.
Psikotik adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan ketidakmampuan seseorang untuk membedakan mana yang nyata dan tidak nyata.
Pada filicide altruistik, pelaku termotivasi oleh keinginan untuk "menyelamatkan" anak dari penderitaan, baik yang nyata maupun yang hanya ada dalam pikiran mereka.
Dalam bunuh diri berkepanjangan, anak dianggap sebagai perpanjangan dari diri pelaku dan ikut dibawa dalam tindakan mengakhiri hidup.
Sedangkan, filicide psikotik terjadi karena pelaku mengalami gangguan psikotik yang memengaruhi persepsinya terhadap realitas.
2. Filicide Kecelakaan
Kategori kedua dari filicide ini melibatkan kasus kematian anak yang tidak disengaja, meskipun sering kali terjadi akibat kekerasan berat.
Dalam situasi ini, pelaku tidak berniat membunuh, namun anak meninggal karena penganiayaan fisik berlebihan atau kelalaian serius.
Salah satu subkategori yang dikenal adalah kasus “anak yang dipukuli”, yang ditandai dengan serangan fisik berulang hingga menyebabkan kematian.
3. Filicide Bayi (Neonaticide)
Sementara itu, kategori ketiga disebut neonaticide, yakni pembunuhan terhadap bayi yang baru dilahirkan.
Umumnya, pelaku adalah ibu yang menyangkal kehamilannya, merasa takut diketahui orang lain, atau bahkan berasumsi bahwa bayinya lahir dalam keadaan tidak bernyawa.
4. Filicide Balas Dendam
Kategori keempat merujuk pada filicide yang dilakukan sebagai bentuk balas dendam terhadap pasangan, biasanya dalam konteks konflik rumah tangga.
Dalam kasus ini, pelaku membunuh anak kandungnya sebagai sarana untuk menyakiti pasangannya secara emosional.
Penutup
Tragedi yang menimpa dua balita di Samarinda menjadi pengingat betapa kompleks dan rentannya dinamika dalam keluarga, terutama ketika dibayangi tekanan mental, ekonomi, dan emosional.
Kasus filicide yang dilakukan oleh WH menunjukkan pentingnya deteksi dini terhadap gangguan psikologis serta perlunya sistem pendukung yang kuat, baik dari keluarga, lingkungan sekitar, maupun layanan profesional. (apr)
Disclaimer:
Informasi berikut ini tidak dimaksudkan untuk mendorong siapa pun melakukan tindakan serupa. Jika Anda merasa tertekan atau mengalami gejala depresi, terlebih dengan pikiran untuk bunuh diri, segera cari bantuan dari pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, atau klinik kesehatan mental terdekat. Jangan ragu untuk bercerita, Anda bisa berkonsultasi dan memeriksakan diri. Anda juga bisa mengakses layanan konseling melalui hotline yang tersedia berikut: https://www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri/hotline-dan-konseling/
- Terungkap Sisi Lain Kehidupan WH, Ayah yang Habisi Dua Anak Kandung: Dari Sakit, Istri Minta Cerai, hingga Coba Bunuh Diri
- Pria 21 Tahun Ditemukan Tewas Tenggelam di Lubang Bekas Tambang di Kukar, Jatam Kaltim: Ini Berulang
- Menteri ESDM Baru Tahu Adanya Tambang Ilegal di IKN dari Media, Bahlil Lahadalia: Itu Kan Enggak Ada Izinnya




