ARUSBAWAH.CO - Ketiadaan kanopi di sejumlah sisi bangunan Pasar Pagi Samarinda direspon pedagang.
Saat hujan turun disertai angin kencang, air dengan mudah masuk ke area dalam bangunan dan berpotensi mengganggu aktivitas jual beli.
Masalah tempias ini dinilai bukan kejadian insidental, melainkan konsekuensi dari desain bangunan yang sejak awal tidak dilengkapi pelindung tambahan di area terbuka.
Keluhan Disampaikan ke Dinas Perdagangan
Pedagang konveksi Akbar Collection, Jufriansyah, menyebut persoalan tempias sejatinya sudah dapat diperkirakan sejak awal pembangunan Pasar Pagi.
Menurutnya, absennya kanopi membuat bangunan rentan kemasukan air hujan.
“Kalau tempias itu sebenarnya sudah bisa diprediksi, karena memang tidak ada kanopi,” ujar Jufriansyah.
Ia mengatakan, kejadian tempias pertama langsung didokumentasikan oleh pedagang dan dibagikan melalui grup forum Pasar Pagi.
Temuan tersebut kemudian disampaikan kepada Kepala Dinas Perdagangan Kota Samarinda, Yama, yang akrab disapa Bu Yama.
Fakta Lapangan, Bukan Sekadar Kekhawatiran
Jufriansyah menegaskan, keluhan pedagang bukan sebatas kekhawatiran, melainkan kondisi nyata di lapangan.
Air hujan yang masuk ke dalam bangunan berpotensi menimbulkan genangan, terutama saat intensitas hujan tinggi.
Pemerintah Janjikan Penanganan, PUPR Dilibatkan Sebagai Teknis
Respons pemerintah daerah mulai terlihat setelah Asisten II Sekretariat Daerah Kota Samarinda turun langsung meninjau Pasar Pagi.
Pemerintah pun menjanjikan adanya langkah penanganan dengan melibatkan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) sebagai penanggung jawab teknis pembangunan.
Namun hingga kini, belum ada kejelasan terkait bentuk solusi yang akan diterapkan.
“Yang jelas, sudah ada janji akan ditindaklanjuti,” kata Jufriansyah.
Dilema Desain Pasar Terbuka dan Kebutuhan Kanopi
Dalam pembahasan awal, muncul dilema antara fungsi bangunan dan konsep desain.
Penutupan permanen di area terbuka dikhawatirkan justru menimbulkan persoalan baru, terutama terkait sirkulasi udara.
“Kalau ditutup total, aliran udara bisa terhambat. Padahal desainnya memang pasar terbuka,” ujarnya.
Salah satu opsi yang sempat dibahas adalah penggunaan sistem buka-tutup, seperti jendela atau penutup fleksibel yang dapat disesuaikan dengan kondisi cuaca.
Namun, opsi tersebut masih sebatas usulan dan belum menjadi keputusan final.
“Desain akhirnya tetap di tangan PUPR. Tapi yang paling penting, persoalan tempias ini harus diselesaikan,” tegas Jufriansyah.
Pedagang Khawatir Kerusakan Barang
Kondisi tempias dinilai cukup mengganggu, terutama bagi pedagang konveksi yang masih meletakkan barang dagangan di lantai selama proses penataan kios dan pembuatan rak.
Meski belum ada laporan kerugian material, risiko tetap membayangi.
“Belum ada laporan barang rusak karena masih tahap pindahan. Tapi ini harus dicegah sejak awal,” jelasnya.
Jangan Sampai Pedagang Pasang Solusi Mandiri
Jufriansyah juga mengingatkan agar pemerintah segera mengambil alih penanganan, guna mencegah pedagang melakukan solusi mandiri seperti pemasangan terpal.
“Kalau pedagang pasang sendiri-sendiri, selain tidak rapi, juga bisa merusak tampilan pasar,” ujarnya.
Menurutnya, jika tidak ditangani secara terkoordinasi, wajah Pasar Pagi yang diharapkan menjadi ikon kota justru berpotensi terlihat semrawut dan kumuh.
“Apalagi ini pasar di pinggir jalan dan terlihat dari luar. Jangan sampai kesannya kumuh,” pungkasnya. (isa)




