ARUSBAWAH.CO - Perumda Tirta Kencana Samarinda menjelaskan fenomena air keruh yang dikeluhkan warga beberapa hari terakhir bukan akibat menurunnya produksi, melainkan fenomena alam di Sungai Mahakam.
Humas Perumda, Taufik, menyebut perubahan warna air baku ini dikenal sebagai “air bangai”, yaitu kondisi air berubah kemerahan akibat panas berkepanjangan di Samarinda.
“Air keruh bukan karena produksi PDAM menurun. Kualitas bahan kimia tetap stabil. Namun air baku dari Sungai Mahakam berubah merah karena fenomena alam,” jelas Taufik, Rabu (11/02/2026).
Proses Pengolahan Air Tetap Jalan, Curah Hujan Bantu Normalisasi
Dalam kondisi normal, air Sungai Mahakam bisa kembali jernih setelah diolah.
Namun saat fenomena air bangai, kualitas air baku berbeda sehingga memengaruhi hasil air bersih.
“Biasanya air bisa kembali jernih setelah proses pengolahan. Tapi saat fenomena ini, air baku memang tidak seperti biasa karena pengaruh panas berkepanjangan,” tambah Taufik.
Kondisi mulai membaik setelah hujan deras mengguyur Samarinda, membantu menormalkan kualitas air baku. Kini, distribusi air bersih untuk pelanggan berangsur kembali jernih.
“Alhamdulillah sekarang kondisi air di Samarinda sudah kembali jernih karena curah hujan yang signifikan,” ujar Taufik.
Permohonan Maaf dan Upaya Perbaikan Layanan
Taufik menyampaikan permohonan maaf kepada pelanggan atas ketidaknyamanan.
Ia menegaskan pihaknya tetap berupaya memberikan pelayanan maksimal meski dihadapkan pada kondisi alam yang sulit diprediksi.
“Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Bukan karena pelayanan menurun, tetapi karena fenomena alam yang memang tidak bisa kami hindari,” katanya.
Selain itu, Perumda Tirta Kencana terus meningkatkan layanan air bersih melalui pembangunan instalasi pengolahan air (IPA) baru di beberapa titik, dengan target cakupan layanan 100 persen pada 2029. (raf)




