ARUSBAWAH.CO - Pasar Ramadan 2026 di kawasan GOR Segiri Samarinda bukan sekadar pusat jajanan berbuka puasa.
Tahun ini, lokasi tersebut dijadikan “laboratorium” untuk mendorong masyarakat beralih dari transaksi tunai ke sistem pembayaran digital berbasis QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard).
Langkah ini bukan hanya soal modernisasi.
Pemerintah Kota Samarinda melihat digitalisasi sebagai strategi memperkuat transparansi ekonomi, menekan potensi kebocoran transaksi, sekaligus membuka akses pelaku usaha ke sistem keuangan formal.
Pertumbuhan QRIS Melejit, UMKM Jadi Tulang Punggung
Berdasarkan data Bank Indonesia, pertumbuhan QRIS dalam beberapa tahun terakhir melonjak signifikan.
Hingga Semester I 2025, jumlah pengguna QRIS telah mencapai sekitar 57 juta orang dengan 39,3 juta merchant. Lebih dari 93 persen di antaranya merupakan pelaku UMKM.
Dari sisi transaksi, nilainya juga tak kecil. Sepanjang paruh pertama 2025, tercatat sekitar 6,05 miliar transaksi dengan total nilai mencapai Rp579 triliun.
Secara tahunan, pertumbuhannya bahkan menyentuh sekitar 139 persen—menjadikannya sistem pembayaran dengan laju pertumbuhan tertinggi.
Melalui program Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD), Bank Indonesia juga mendorong pemerintah daerah memperluas transaksi non tunai karena dinilai mampu memperkuat pendapatan asli daerah (PAD).
Tag



