Selain itu, jam operasional juga tetap normal, yakni pukul 08.00–17.00 Wita, dengan hari Minggu sebagai hari libur.
Terkait target penjualan, Daud mengaku tidak memasang angka khusus selama Ramadan. Fokus utama adalah memastikan usaha tetap berjalan dan mampu menutup biaya operasional.
“Kami tidak pasang target khusus. Yang penting usaha tetap jalan dan ada pemasukan,” ungkapnya.
Tantangan Musiman dan Peluang Pasca-Ramadan
Penurunan permintaan saat Ramadan dinilai sebagai pola tahunan yang sudah diantisipasi pelaku usaha.
Strategi yang diterapkan umumnya dengan mengandalkan pesanan jangka panjang serta mempersiapkan kapasitas produksi untuk menghadapi lonjakan setelah Lebaran.
Bagi pelaku percetakan di Samarinda, periode pasca-Ramadan justru menjadi momentum penting untuk mendongkrak omzet.
Dengan meningkatnya jumlah pernikahan dan berbagai acara seremonial, pasar diprediksi kembali bergerak dinamis.
Fluktuasi musiman memang menjadi tantangan tersendiri.
Namun di balik perlambatan Ramadan, tersimpan peluang besar yang siap dimaksimalkan begitu memasuki musim hajatan di bulan Syawal dan seterusnya. (sobizz/isa)
Tag




