ARUSBAWAH.CO - Momentum Ramadan 1447 Hijriah membawa dampak langsung terhadap pergerakan sektor percetakan di Samarinda.
Aktivitas pemesanan, khususnya untuk kebutuhan undangan acara seperti pernikahan, tercatat mengalami perlambatan dibanding bulan-bulan biasa.
Namun kondisi tersebut dinilai sebagai pola musiman yang sudah terjadi setiap tahun dan tidak sampai mengganggu keberlangsungan usaha.
Permintaan Undangan Turun, Tapi Produksi Tetap Jalan
Pemilik Five Media Samarinda, Daud, mengungkapkan bahwa Ramadan memang identik dengan penurunan pesanan.
Minimnya hajatan selama bulan puasa menjadi faktor utama lesunya permintaan di sektor percetakan.
Menurutnya, masyarakat cenderung menunda penyelenggaraan acara besar seperti pernikahan hingga setelah Lebaran.
“Kalau Ramadan memang biasanya turun dibanding bulan biasa. Tapi menjelang akhir Ramadan sampai setelah Lebaran itu mulai ramai lagi,” ujarnya, Kamis (26/2/2026).
Meski terjadi penurunan, aktivitas produksi tidak sepenuhnya berhenti.
Pesanan tetap masuk, hanya saja mayoritas bukan untuk kebutuhan langsung di bulan puasa, melainkan untuk agenda setelah Lebaran.
Daud menjelaskan, pelanggan yang memesan saat Ramadan umumnya sudah merencanakan acara di bulan Syawal atau bulan-bulan berikutnya.
Artinya, proses produksi tetap berjalan dengan orientasi waktu yang berbeda.
“Biasanya yang pesan di Ramadan itu dipakai setelah Lebaran. Jadi sekarang cetak, dipakai bulan depan,” jelasnya.
Syawal Jadi Puncak Musim Pernikahan
Dalam siklus tahunan bisnis percetakan, Ramadan memang menjadi fase perlambatan sementara.
Namun lonjakan permintaan biasanya terjadi setelah Idulfitri, terutama memasuki bulan Syawal hingga menjelang Iduladha.
Daud menyebut, undangan pernikahan memiliki musim tersendiri.
Permintaan mulai meningkat sebelum Ramadan, menurun saat puasa, lalu mencapai puncaknya di bulan Syawal.
“Biasanya paling ramai itu di bulan Syawal, karena banyak yang menikah. Dari sebelum puasa sampai setelah Lebaran Haji memang ada musimnya,” katanya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa sektor percetakan sangat dipengaruhi oleh siklus sosial dan budaya masyarakat.
Ketika aktivitas seremonial berkurang, permintaan ikut melambat. Sebaliknya, saat musim hajatan tiba, pesanan melonjak signifikan.
Harga dan Jam Operasional Tetap Stabil
Di tengah perlambatan pasar, Five Media memastikan tidak ada perubahan harga selama Ramadan.
Kebijakan tersebut diambil untuk menjaga kepercayaan pelanggan sekaligus mempertahankan daya saing usaha.
Selain itu, jam operasional juga tetap normal, yakni pukul 08.00–17.00 Wita, dengan hari Minggu sebagai hari libur.
Terkait target penjualan, Daud mengaku tidak memasang angka khusus selama Ramadan. Fokus utama adalah memastikan usaha tetap berjalan dan mampu menutup biaya operasional.
“Kami tidak pasang target khusus. Yang penting usaha tetap jalan dan ada pemasukan,” ungkapnya.
Tantangan Musiman dan Peluang Pasca-Ramadan
Penurunan permintaan saat Ramadan dinilai sebagai pola tahunan yang sudah diantisipasi pelaku usaha.
Strategi yang diterapkan umumnya dengan mengandalkan pesanan jangka panjang serta mempersiapkan kapasitas produksi untuk menghadapi lonjakan setelah Lebaran.
Bagi pelaku percetakan di Samarinda, periode pasca-Ramadan justru menjadi momentum penting untuk mendongkrak omzet.
Dengan meningkatnya jumlah pernikahan dan berbagai acara seremonial, pasar diprediksi kembali bergerak dinamis.
Fluktuasi musiman memang menjadi tantangan tersendiri.
Namun di balik perlambatan Ramadan, tersimpan peluang besar yang siap dimaksimalkan begitu memasuki musim hajatan di bulan Syawal dan seterusnya. (sobizz/isa)




