Ada juga versi yang lebih logis, yakni duduk di depan pintu dilarang karena bisa menghambat orang keluar masuk rumah.
Namun, dari Kalimantan ada cerita yang jauh lebih menyeramkan.
Konon, saat senja, orang yang duduk di depan pintu akan terlihat berbeda di mata makhluk gaib, bukan sebagai manusia, melainkan sebagai binatang.
Jika makhluk gaib tersebut menyukainya, kesadaran orang itu bisa “dibawa pergi” atau dicuri.
Seram banget, kan?
11. Buang Air Sembarangan
Kalau sedang berada di hutan, sebagian orang mungkin terbiasa buang air sembarangan tanpa pikir panjang.
Tapi beda halnya dengan kepercayaan masyarakat Kalimantan.
Di sana, sebelum buang air, seseorang wajib “minta izin” terlebih dahulu kepada roh penjaga atau datu yang diyakini bersemayam di tempat itu.
Biasanya dengan mengucapkan, “Permisi datu, saya mau buang air di sini...”
Tradisi ini dianggap sebagai wujud penghormatan terhadap roh leluhur yang menjaga alam.
Sebaliknya, jika melanggar dan buang air sembarangan tanpa izin, dipercaya roh penunggu bisa murka.
Konsekuensinya? Masalah serius bisa menimpa, mulai dari penyakit misterius hingga gangguan aneh yang sulit dijelaskan.
12. Kota Saranjana
Saranjana, kota gaib di Pulau Laut, Kotabaru, Kalimantan Selatan, sejak lama memikat imajinasi masyarakat.
Bagi sebagian orang, Saranjana diyakini nyata, sedangkan bagi yang lain, ia hanya sekadar mitos dan bagian dari cerita rakyat.
Keyakinan akan keberadaannya pun beragam, ada yang percaya karena mendengar kisah turun-temurun, ada pula yang yakin setelah mengalami peristiwa janggal.
Seorang warga Banjarmasin bernama A. Fadlan, misalnya, menuturkan bahwa ia percaya Saranjana benar-benar ada.
Keyakinannya muncul setelah mendengar langsung testimoni beberapa rekannya yang mengaku tanpa sengaja masuk ke kota gaib itu.
Menurut cerita, Saranjana digambarkan sebagai kota megah di tengah hutan, dihuni makhluk gaib dengan peradaban yang menyerupai manusia.
“Katanya, ia melihat kerumunan orang ramai padahal tempat itu seharusnya hanya hutan belantara,” ungkap Fadlan.
Terdapat pula pandangan dari akademisi.
Mansyur, pakar sejarah Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, menyebutkan bahwa Saranjana juga terekam dalam catatan sejarah.
Salah satu rujukannya adalah karya Salomon Muller, naturalis asal Jerman, yang dalam peta berjudul “Kaart van de Kust-en Binnenlanden van Banjermasing behoorende tot de Reize in het zuidelijke gedeite van Borneo” tahun 1845 mencatat wilayah bernama Tandjong (hoek) Serandjana.
Lokasi itu berada di selatan Pulau Laut, berbatasan dengan Pulau Kerumputan dan Pulau Kidjang.
Selain itu, Mansyur juga menemukan jejak etnografis yang menarik.
Ia menyebut, nama Saranjana kemungkinan berasal dari seorang Kepala Suku Dayak Samihim bernama Sambu Ranjana.
Dengan demikian, kota ini dihipotesiskan tak hanya hidup dalam mitos, tapi juga memiliki akar sejarah dan budaya yang kuat.
Penutup
Itulah beberapa perilaku pamali dan mitos yang diyakini masyarakat Kalimantan Selatan.
Perlu diingat, pamali sejatinya merupakan bagian dari mitos dan kepercayaan turun-temurun dari leluhur.
Cara pandang tiap orang terhadap mitos dan pamali tentu bisa berbeda-beda sehingga soal percaya atau tidaknya, sepenuhnya kembali pada keyakinan masing-masing individu.
(apr)




