Bagi Rudy, MTQ bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan ruang silaturahmi dan penguatan jati diri spiritual masyarakat.
Ia berharap, kegiatan ini mampu melahirkan generasi yang tidak hanya fasih membaca Al-Qur’an, tetapi juga mampu memahami dan mengamalkan nilai-nilainya.
Gelaran ini menghadirkan 11 majelis lomba untuk delapan cabang utama, mulai dari tilawah anak-anak hingga dewasa, tartil, qiraat mujawwad dan murattal, musabaqah hafalan Al-Qur’an (MHQ), tafsir Bahasa Arab, Musabaqah Fahmil Qur’an (MFQ), Musabaqah Syarhil Qur’an (MSyQ), hingga Musabaqah Khattil Qur’an (MKTIQ).
Perlombaan tersebar di berbagai titik strategis di Sangatta, seperti Lapangan Helipad, Masjid Agung Al-Faruq, Gedung PKK, dan Gedung Bappeda Kutim.
Penempatan ini menegaskan bahwa MTQ bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan denyut budaya dan spiritual yang hidup di tengah masyarakat.
Dengan suasana yang khidmat berpadu kemeriahan, MTQ XLV di Kutim diharapkan melahirkan generasi Qurani yang tidak hanya mahir melantunkan ayat suci, tetapi juga menanamkan nilai-nilai luhur Al-Qur’an dalam setiap langkah kehidupan. (adv)
Tag



