Arus Daerah

Misteri Pulau Borneo, Kumpulan Mitos di Berbagai Wilayah Kalimantan yang Masih Hidup hingga Kini

Kisah Kota Saranjana Masuk Daftar

Selasa, 7 Oktober 2025 8:34

MITOS - Potret Bundaran Simpang Empat Banjarbaru di Kalimantan Selatan dan Bundaran Besar Palangka Raya di Kalimantan Tengah (Foto: IST)

ARUSBAWAH.CO - Dari Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, hingga Kalimantan Tengah, pulau yang dikenal dengan julukan “Pulau Borneo” ini menyimpan beragam mitos turun-temurun yang masih dipercaya hingga kini.

Di balik keindahan alamnya yang memukau, Kalimantan juga dikenal kaya akan mitos, pamali, dan cerita rakyat yang mencerminkan kepercayaan spiritual masyarakat setempat.

Berikut beberapa mitos dari Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, hingga Kalimantan Tengah.

Mitos-Mitos dari Kalimantan Timur

1. Pamali Tolak Tawaran Makanan (Kepuhunan)

Masyarakat Kalimantan punya sejumlah aturan tak tertulis yang dikenal dengan sebutan pamali, larangan adat yang diyakini bisa mendatangkan akibat buruk jika dilanggar.

Salah satu pamali yang paling sering terdengar adalah larangan menolak makanan yang ditawarkan.

Konon, menolak suguhan bisa membawa kesialan, yang mana hal ini disebut dengan kepuhunan.

Karena itu, bila warga setempat memberi makanan atau minuman, sebaiknya diterima dan dicicipi, meski tidak perlu dihabiskan.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, ada pula kebiasaan unik, yakni menjilat ujung jari lalu menyentuh leher, sebuah ritual sederhana yang dipercaya mampu menangkal bencana.

2. Minum Air Sungai Mahakam

Sungai legendaris ini membentang sepanjang kurang lebih 920 km, mengalir dari Kutai Barat hingga ke Samarinda, lalu bermuara di Selat Sulawesi.

Konon, siapa pun yang pernah minum air Sungai Mahakam pasti akan kembali lagi suatu saat nanti.

Bukan sekadar kata-kata, banyak perantau maupun pendatang yang mengaku merasakan hal itu.

Entah karena rindu suasana Samarinda, keindahan alam sekitarnya, atau sekadar kebetulan, selalu saja ada alasan untuk pulang lagi ke tepian Mahakam.

3. Lembuswana

Makhluk mitologi ini dipercaya masyarakat Kutai Kartanegara sebagai penjaga hutan dan alam raya, simbol keagungan sekaligus perlindungan.

Lembuswana sendiri digambarkan sebagai makhluk gaib hasil perpaduan dari berbagai hewan, seperti banteng, elang, gajah, singa, hingga ayam, yang melambangkan kekuatan dan kewibawaan.

Dalam cerita rakyat, sosoknya kerap muncul dengan tubuh besar, kulit hijau, dan paras yang menakutkan.

4. Buaya Tak Wangsa Warga Asli Kalimantan

Kisah ini mulai dikenal luas ketika seekor buaya terlihat berenang dari tengah sungai menuju tepian sambil membawa jasad seorang balita yang sebelumnya tenggelam.

Aksi mengejutkan itu membuat banyak orang terperangah, apalagi tubuh sang balita ditemukan utuh tanpa sedikit pun luka.

Dari peristiwa inilah muncul sebuah mitos yang diyakini masyarakat Kalimantan bahwa buaya dianggap memiliki ikatan kekerabatan dengan penduduk asli sehingga dipercaya tidak akan memangsa mereka.

5. Ular Penghuni Sungai Mahakam

Konon, pada sekitar tahun 1980, sejumlah warga mengaku melihat makhluk gaib berwujud naga air yang muncul ke permukaan di tengah malam.

Saksi mata kala itu menggambarkan sosoknya begitu jelas, bermata menyala terang dengan tubuh yang besar.

Jauh sebelum kisah tentang naga ini beredar, masyarakat sekitar sudah lebih dulu meyakini bahwa sungai terpanjang di Kalimantan Timur tersebut dihuni oleh ular raksasa sebagai penjaga alamnya.

6. Hantu Penyelam di Sungai

Di balik keindahan Sungai Mahakam yang memukau, terselip kisah menyeramkan tentang sosok gaib yang dikenal sebagai hantu penyelam.

Konon, arwah ini berasal dari seorang penyelam yang tewas saat berusaha menolong korban tenggelam di sungai tersebut.

Sejak saat itu, masyarakat percaya roh sang penyelam tidak pernah benar-benar pergi, melainkan terus bergentayangan di sekitar perairan Mahakam.

7. Mitos Buaya Kembar

Mitos Kembar Buaya berawal dari kisah sepasang suami istri di wilayah Paser yang tengah berbahagia setelah sang istri mengandung anak pertama.

Kebahagiaan itu makin bertambah saat mereka mengetahui bahwa sang istri mengandung bayi kembar.

Namun, dari dua bayi kembar yang lahir, salah satunya ternyata bukan manusia, melainkan seekor buaya.

Meski kaget, pasangan ini tetap menerima takdir tersebut dan merawat sang buaya dengan kasih sayang yang sama seperti anak kandungnya.

Seiring waktu, buaya itu tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan saudara kembarnya hingga akhirnya sang pasangan memutuskan untuk menghantarkannya ke laut.

Dari situlah buaya tersebut dipercaya berkembang biak dan menetap di perairan Paser.

Mitos-Mitos dari Kalimantan Selatan

1. Pantangan Minum Kopi Sampai Habis

Jika seseorang, terutama orang asing atau yang baru dikenal, menawarkan kopi, sebaiknya jangan pernah menghabiskannya sampai tetes terakhir.

Biarkan sedikit tersisa, karena dipercaya dapat menangkal hal-hal buruk yang mungkin terjadi.

Konon, kebiasaan ini berhubungan dengan upaya menghindari guna-guna atau ilmu hitam, sebab masyarakat percaya makanan dan minuman kerap dijadikan media oleh pihak yang berniat jahat.

Tag

MORE