Ia sampaikan, dari total 290 peneliti yang tercatat, hanya 60 yang terverifikasi aktif di Perhimpunan Periset Indonesia (PPI).
"Sebagian sudah pensiun atau pindah. Kami masih butuh banyak tenaga ahli," ungkap Fitriansyah.
Untuk mengatasi kekurangan ini, BRIDA menjalin kolaborasi dengan perguruan tinggi lokal dan lembaga nasional seperti BRIN.
"Kalau di Kaltim tidak ada tenaga ahli, kami minta bantuan dari luar," katanya.
Salah satu contohnya adalah riset arkeologi yang melibatkan lembaga dari luar daerah.
Fitriansyah berharap ke depan BRIDA bisa terus meningkatkan kapasitas SDM dan memperluas jaringan riset.
"Kami ingin semua riset yang kami hasilkan benar-benar berdampak nyata bagi masyarakat," tutupnya. (wan)
Tag



