Feature

Mahasiswi FH Unmul Raih Juara 1 Debat Nasional, Ungguli 22 Universitas se-Indonesia

Tim FH Unmul sapu piala bergilir di Pasundan Law Fair 2026

Kamis, 23 April 2026 18:4

Tim FH Unmul saat menerima Piala Bergilir Pasundan Law Fair 2026 di Bandung. (Foto: Istimewa/Narasumber FH Unmul)

ARUSBAWAH.CO -  Delegasi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Mulawarman (FH Unmul) sukses menorehkan prestasi gemilang di tingkat nasional. 

Tim yang beranggotakan tiga mahasiswi angkatan 2023 ini berhasil membawa pulang Piala Bergilir dalam ajang Pasundan Law Fair 2026 yang diselenggarakan di Bandung, Jawa Barat.

Kemenangan ini diraih oleh tim yang beranggotakan Desi Analia, Dewina Christy Siregar, dan Shalom Gabriela Emanuel. 

Namun, dalam sesi wawancara yang dilakukan usai kepulangan mereka pada Rabu (22/4/2026), Shalom berhalangan hadir karena kondisi kesehatannya menurun akibat kelelahan setelah mengikuti rangkaian perlombaan yang sangat padat di Bandung.

Persaingan Ketat Menuju Puncak

Perjalanan tim Unmul menuju podium juara merupakan perjuangan panjang melawan puluhan kampus besar lainnya. 

Perlombaan ini diikuti oleh total 22 tim delegasi dari berbagai universitas di seluruh Indonesia. 

Proses penyaringan dilakukan melalui beberapa tahap yang sangat ketat.

Tahap awal dimulai dengan seleksi video pidato (speech contest) yang bertugas menyaring 22 tim tersebut menjadi 8 tim terbaik. 

Setelah lolos, kedelapan tim ini bertanding kembali di babak perempat final secara daring menggunakan aplikasi pertemuan video. 

Dari persaingan tersebut, tim FH Unmul berhasil masuk ke dalam jajaran 4 tim terbaik nasional yang diundang langsung ke Bandung untuk menjalani babak semifinal dan final secara tatap muka.

Agenda Perlombaan di Bandung

Tim delegasi FH Unmul berangkat menuju Bandung pada tanggal 14 April 2026. 

Jadwal yang mereka jalani tergolong sangat padat, di mana rangkaian pertandingan penting berlangsung tepat keesokan harinya. 

Pada tanggal 15 April 2026, mereka harus langsung bertanding di babak semifinal hingga babak final dalam satu hari yang sama.

Kekompakan Tim Tanpa Seleksi Kaku

Salah satu fakta menarik dari keberhasilan ini adalah proses pembentukan tim yang tidak melalui seleksi formal di tingkat fakultas. 

Dewina Christy Siregar, yang bertindak sebagai pembicara pertama, menjelaskan bahwa kedekatan emosional dan visi yang sama menjadi modal utama mereka.

"Kami sudah sering menjadi satu tim sejak duduk di semester dua melalui Komunitas Debat FH Unmul. Karena kami merasa sudah sangat cocok dan saling memahami cara kerja masing-masing, untuk lomba-lomba di tahun ini kami langsung maju sebagai satu tim tetap tanpa perlu seleksi internal lagi," ungkap Dewina.

Meskipun sudah memiliki kekompakan yang kuat, persiapan teknis tetap dilakukan secara serius. 

Dalam waktu satu minggu sebelum keberangkatan, mereka melakukan riset mendalam terhadap empat mosi atau topik perdebatan. 

Fokus utama mereka adalah membedah aspek Hukum Tata Negara dan Hukum Pidana, dengan bimbingan intensif dari dosen-dosen pakar di kampus.

 

Drama Mosi Tertukar di Babak Semifinal

Perjalanan mereka di Bandung hampir saja terhenti akibat sebuah insiden teknis yang tak terduga. 

Dewina menceritakan momen mendebarkan di babak semifinal yang sempat meruntuhkan mental timnya. 

Saat itu, mosi yang telah mereka siapkan dengan matang ternyata sudah dimainkan oleh tim lain di ruangan berbeda.

"Kami sempat sangat kelabakan dan merasa putus asa (hopeless). Kami mengira bahwa kami yang salah menyiapkan mosi atau bahkan akan didiskualifikasi oleh panitia. Namun, setelah diklarifikasi, ternyata itu murni kesalahan teknis dari panitia yang tertukar membagikan topik mosi. Kami bersyukur bisa kembali tenang dan fokus bertanding hingga masuk ke final," kata Dewina.

Ketangguhan mental ini membuahkan hasil manis. 

Dewina Christy Siregar bahkan dinobatkan sebagai pembicara terbaik atau Best Speaker dalam ajang tersebut karena analisis hukumnya yang tajam dan cara penyampaian yang meyakinkan.

Dukungan Penuh dari Pihak Kampus

Keberhasilan ini juga didukung penuh oleh fasilitas dari pihak Universitas. 

Desi Analia, yang bertindak sebagai pembicara ketiga, menjelaskan bahwa pihak fakultas memberikan dukungan pembiayaan secara menyeluruh. 

Hal ini membuat tim bisa berangkat dengan fokus penuh pada materi lomba tanpa terbebani masalah biaya.

"Alhamdulillah kami mendapatkan dukungan penuh (full support) dari kampus. Mekanismenya, kami menyusun proposal yang berisi rincian kebutuhan seperti biaya pendaftaran, penginapan, tiket pesawat, hingga uang saku. Semuanya dibantu oleh pihak Dekanat," jelas Desi.

Menumbangkan UPH dan Harapan Masa Depan

Di babak final, tim FH Unmul menghadapi tantangan besar dari Universitas Pelita Harapan (UPH). 

Pertandingan puncak ini berlangsung sangat sengit dan melelahkan hingga pukul 21.00 WIB. 

Penilaian juri yang sangat objektif dan rahasia membuat hasil pemenang tidak dapat ditebak hingga detik-detik terakhir.

Kemenangan ini diharapkan tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga memotivasi regenerasi mahasiswa hukum di Samarinda. 

Para mahasiswa berprestasi ini pun sudah memiliki rencana masa depan yang jelas. 

Desi Analia mengungkapkan keinginannya untuk terjun ke dunia jurnalisme atau menjadi pengacara profesional. 

Sementara itu, Dewina berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 dengan cita-cita menjadi seorang dosen.

Harapan untuk masa depan fakultas juga menjadi catatan penting bagi tim ini. 

"Kami berharap tahun depan tetap ada delegasi dari Unmul yang turun di ajang Pasundan Law Fair atau lomba debat lainnya. Bukan hanya soal menang, tapi pengalaman berpikir kritis dan kemampuan bicara di depan umum ini sangat penting bagi masa depan kami," tutup Dewina yang diamini oleh rekannya. (son)

 

Tag

MORE