ARUSBAWAH.CO - Ekosistem startup Indonesia selama beberapa tahun terakhir berkembang pesat dan menjadi salah satu yang terbesar di Asia Tenggara.
Namun di balik pertumbuhan tersebut, muncul fenomena yang menjadi perhatian para pengamat ekonomi dan pelaku industri investasi.
Sejumlah startup dan perusahaan modal ventura (PMV) Indonesia diketahui lebih memilih mendirikan entitas bisnis di Singapura dibandingkan di dalam negeri.
Temuan ini diungkap dalam Naskah Akademik Pengembangan Dana dan Insentif Perpajakan Modal Ventura di Indonesia yang disusun oleh CELIOS.
Dalam kajian tersebut disebutkan bahwa sebagian pelaku industri memilih membangun entitas di luar negeri, khususnya Singapura, karena dinilai menawarkan regulasi dan sistem fiskal yang lebih menarik dibanding Indonesia.
Fenomena ini menjadi sorotan karena terjadi di tengah upaya pemerintah memperkuat industri modal ventura sebagai sumber pembiayaan alternatif bagi startup dan UMKM yang belum terjangkau layanan perbankan.
Singapura Dinilai Lebih Menarik bagi Startup dan Investor
Menurut kajian CELIOS, salah satu tantangan yang masih dihadapi industri modal ventura Indonesia adalah rendahnya pemanfaatan lisensi resmi yang telah disediakan regulator.
Sebagian pelaku industri menganggap proses perizinan dan regulasi yang berlaku masih relatif kompleks sehingga memilih mendirikan entitas di luar negeri.
Singapura menjadi salah satu tujuan utama karena dianggap memiliki regulasi yang lebih fleksibel serta iklim investasi yang lebih kompetitif.
Kondisi tersebut terjadi ketika Indonesia sebenarnya memiliki kebutuhan besar terhadap pendanaan alternatif.
Data dalam kajian menunjukkan UMKM menyumbang lebih dari 60 persen Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan sekitar 97 persen lapangan kerja.
Namun hanya sekitar 30 persen UMKM yang memiliki akses terhadap pembiayaan formal.
Di sisi lain, modal ventura memiliki keunggulan karena tidak mengutamakan agunan seperti perbankan.
Investor modal ventura cenderung menilai potensi pertumbuhan bisnis, inovasi, dan prospek jangka panjang perusahaan yang didanai.
Karena itu, keberadaan industri modal ventura yang kuat dinilai penting untuk mendorong lahirnya startup dan usaha baru di Indonesia.
CELIOS juga menyoroti bahwa sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara telah lebih agresif memberikan dukungan kepada industri modal ventura melalui berbagai insentif fiskal dan kebijakan yang ramah investor.
Kondisi ini membuat persaingan dalam menarik investasi semakin ketat.
Berpotensi Mengurangi Penerimaan Pajak dan Kemandirian Ekosistem Digital
Fenomena pendirian entitas di luar negeri tidak hanya berkaitan dengan urusan administrasi perusahaan.
Kajian CELIOS menyebut kondisi tersebut berpotensi menyebabkan hilangnya penerimaan pajak dan mengurangi efektivitas pengawasan terhadap aktivitas investasi yang berkaitan dengan perusahaan Indonesia.
Selain itu, sektor startup Indonesia masih menunjukkan ketergantungan yang cukup tinggi terhadap investor asing.
Data dalam kajian memperlihatkan mayoritas investasi startup berasal dari luar negeri, sementara kontribusi investasi domestik masih relatif kecil dan cenderung tidak konsisten dalam beberapa tahun terakhir.
CELIOS menilai kondisi tersebut dapat menjadi tantangan bagi kemandirian ekosistem digital nasional.
Ketika sumber pendanaan lebih banyak berasal dari luar negeri, arah pengembangan bisnis dan inovasi berpotensi lebih dipengaruhi oleh kepentingan investor global dibanding kebutuhan pasar domestik.
Karena itu, kajian tersebut mendorong perlunya berbagai kebijakan untuk memperkuat daya saing industri modal ventura nasional.
Langkah yang dapat dilakukan antara lain memperbaiki iklim investasi, meningkatkan insentif fiskal, memperkuat regulasi yang mendukung pertumbuhan startup, serta memperbesar partisipasi investor domestik dalam pembiayaan perusahaan rintisan.
Dengan ekosistem yang lebih kompetitif, Indonesia diharapkan tidak hanya mampu menarik investasi baru, tetapi juga menjadi tempat yang lebih menarik bagi startup lokal untuk tumbuh dan berkembang tanpa harus mendirikan entitas bisnis di luar negeri. (tan)
- Produksi Batu Bara RI Pernah Tembus 830 Juta Ton, 664 RKAB Tambang Disetujui Juni 2026, Produksi Nasional Dipangkas Jadi 733 Juta Ton Tahun Ini?
- Fasilitas Modern hingga CT Scan 128 Slice, Mengenal Layanan di Rumah Sakit Mulya Medika Samarinda
- 6 Jurusan Institut Teknologi Kalimantan yang Relevan dengan Pembangunan IKN, Ada Teknik Sipil hingga Informatika




