ARUSBAWAH.CO - Pusat Studi Hak Asasi Manusia dan Multikulturalisme Tropis (PUSHAM-MT) Universitas Mulawarman angkat suara.
Ketua PUSHAM-MT, Mustafa, menyampaikan sikap tegas lembaganya menyikapi adanya unggahan video di media sosial yang dinilai merendahkan martabat penyandang disabilitas.
Dalam pernyataan sikap yang disampaikan di Samarinda, 5 Februari 2026, Mustafa menegaskan bahwa konten semacam itu tidak bisa lagi dibungkus dengan dalih hiburan.
“Ini bukan soal selera humor. Ini soal martabat manusia,” ujarnya dalam keterangan resmi diterima Arusbawah.co
Ruang Digital Tidak Boleh Jadi Tempat Normalisasi Perundungan
Mustafa menjelaskan, unggahan yang mengejek atau mengeksploitasi kondisi disabilitas bukan hanya menyakiti individu yang menjadi objek, tetapi juga berdampak luas pada komunitas disabilitas secara keseluruhan.
“Ketika disabilitas dijadikan bahan lelucon, yang dinormalisasi adalah stigma. Dari situ lahir perundungan, bahkan kekerasan simbolik dan psikologis,” kata Mustafa.
Menurutnya, ruang digital seharusnya tunduk pada prinsip non-diskriminasi sebagaimana ruang publik lainnya.
“Kebebasan berekspresi tidak pernah dimaksudkan untuk merendahkan kelompok rentan,” tegasnya.
Tag



