Di sektor belakang, ada kombinasi Rúben Dias, Nuno Mendes, João Cancelo, serta Diogo Dalot yang memberi keseimbangan antara bertahan dan membangun serangan.
Sementara lini depan tetap berbahaya dengan hadirnya Rafael Leão, Gonçalo Ramos, Pedro Neto, hingga Ronaldo yang masih menjadi simbol dan pemimpin di ruang ganti.
Bagi Deni, inilah pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir Portugal terlihat tidak bergantung pada satu nama.
“Kalau dulu Portugal identik dengan Ronaldo, sekarang mereka sudah punya banyak opsi. Itu yang membuat mereka lebih berbahaya,” ujarnya.
Belajar dari Luka Qatar 2022
Empat tahun lalu, Portugal datang ke Piala Dunia Qatar dengan ekspektasi besar.
Namun langkah mereka terhenti di perempat final setelah kalah mengejutkan dari Maroko.
Hasil itu kembali memperpanjang penantian Portugal untuk menembus capaian terbaik mereka di Piala Dunia, yakni peringkat ketiga pada edisi 1966.
Kini tantangannya berbeda.
Portugal akan memulai fase grup dengan menghadapi Republik Demokratik Kongo, Uzbekistan, dan Kolombia.
Di atas kertas, mereka lebih diunggulkan.
Tetapi seperti yang sering terjadi di turnamen besar, kualitas pemain tidak selalu otomatis menjadi trofi.
Meski begitu, bagi Deni, ada satu hal yang membuat optimisme tahun ini terasa berbeda.
Tag



