Arus Terkini

Kata Ahli, Budaya Pangan Nusantara Siap Menjawab Krisis Kesehatan Masa Kini

Rabu, 18 Desember 2024 4:41

Ilustrasi kuliner/ pexels-catscoming-2942320

Begitu juga bubur manado dan bubur tinutuan yang memiliki komposisi gizi lengkap, karena adanya karbohidrat, protein, dan lemak dalam satu hidangan.

Itulah kenapa Khoirul memandang bahwa makanan lokal berpotensi memiliki gizi yang seimbang.

Menurutnya, masyarakat Papua memahami, mengonsumsi papeda saja tidak cukup. Maka, mereka menyantapnya dengan sumber gizi lain, seperti ikan laut yang sangat melimpah, kuah kuning, dan sayuran yang dipetik dari kebun sendiri.

Dengan begitu, kebutuhan gizinya akan terpenuhi.

Ilustrasi Kuliner/ pexels-fox-58267-1320917

Jaqualine Wijaya, CEO Eathink, menambahkan, Papua bahkan punya buah endemik, yaitu matoa yang semakin langka. Juga ada sayur swamening yang terbuat dari daun gedi.

Dari sisi tradisi, setiap makanan tradisional memiliki nilai tersendiri. Contohnya, menyantap ketupat saat Lebaran sudah menjadi budaya yang melekat.

Hanya saja, orang kini semakin sadar akan kesehatan.

“Tapi, dengan alasan kesehatan, bukan berarti kita melarang orang makan ketupat, lalu menggantinya dengan oat. Terkait tradisi, ketupat merupakan simbol permintaan maaf, tidak bisa dihilangkan begitu saja. Walaupun, pada zaman sekarang modifikasi makanan sudah menjadi sebuah kebutuhan. Namun, jangan sampai menghilangkan apa yang menjadi jati diri,” kata Khoirul.

Roby bercerita, masyarakat Sumatra sering mengonsumsi sayur pakis yang mampu menurunkan tekanan darah tinggi karena tinggi akan kalium.

“Itu berarti, apa yang diberikan oleh alam sudah sesuai dengan gaya hidup dan gaya makan masyarakatnya. Tapi, ketika mereka pindah ke kota, gaya hidupnya berubah, tapi pola makannya sama, maka dia bisa sakit. Misalnya, dari yang mulanya berkebun, kini bekerja di kantor, sementara pola makanya tetap sama, ini akan menimbulkan masalah kesehatan baru. Sebab, ada yang tidak seimbang dalam pola makan mereka," jelas Roby.

Ads Arusbawah.co

Yang menarik, setiap etnis memiliki nilai kearifan tersendiri, misalnya tentang berbagi makanan kepada orang lain dan berhenti makan ketika sudah merasa cukup.

Virginia mencontohkan, sejak dulu masyarakat Yogya gemar mengonsumsi makanan dan minuman manis.

Salah satu kebiasaan yang ‘beraroma’ sangat Yogya adalah menyesap teh poci hangat di sore hari.

Di balik kebiasaan tersebut tersembunyi filosofi, bahwa setelah seharian bekerja, tiba waktunya untuk beristirahat dan sejenak menikmati hidup.

Contoh lain adalah rendang yang berasal dari kata marandang.

Di balik kenikmatan rendang yang mendunia ini, terkandung makna yang direpresentasikan oleh santan, rempah, dan cabai merah.

Virginia melihat rendang yang dalam sejarahnya dibuat dengan proses memasak yang panjang, diolah dengan bahan-bahan terbaik, merupakan tanda kasih yang disiapkan orang tua untuk anak-anak yang merantau.

Kearifan lokal lain yang sebenarnya sudah membudaya di berbagai etnis adalah makan bersama.

Contohnya, Bajamba di Sumatra Barat, sebuah tradisi yang mencerminkan prinsip kebersamaan dan saling berbagi.

Makanan yang disajikan dalam porsi cukup besar, namun dimakan bersama sehingga tidak ada yang terbuang. Pengaturan porsi yang tepat dan saling berbagi memastikan makanan yang dihidangkan bisa dihabiskan oleh mereka yang hadir.

Tanpa disadari, tradisi ini mengurangi pemborosan makanan atau food waste.

Khoirul mengungkapkan, solusi agar tidak menjadi food waste bukan makan sebanyak-banyaknya sampai habis.

Yang dianjurkan adalah food sharing, yang bisa membantu mengurangi sampah makanan, sekaligus mengontrol porsi makan.

Masalahnya, ketika sakit akibat makanan, orang terkadang menyalahkan makanannya. Misalnya, sakit setelah Idul Adha, yang disalahkan ketupat dan sate.

Makanan itu tidak salah. Ketika kita punya 10 tusuk sate, lalu hanya menyantap 2 tusuk, dampaknya akan berbeda kalau kita menghabiskan 10 tusuk sekaligus, ditambah 10 tusuk lagi kiriman dari tetangga. Kalau mau sehat, kita harus punya kesadaran untuk mengendalikan cara makan. Itulah kenapa portioning menjadi penting,” kata Khoirul, Program Studi Gizi, Fakultas Teknologi Pangan dan Kesehatan, Universitas Sahid Jakarta.

Ilustrasi Kuliner/ pexels-kun-fayakun-1238181416-23147807
Tag

MORE