ARUSBAWAH.CO - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terus mempercepat langkah menjadikan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat sebagai kawasan berstandar dunia.
Ambisi itu kini memasuki babak penting dengan dimulainya verifikasi lapangan Geopark Nasional yang berlangsung pada 6–10 Juli 2026, sebagai salah satu tahapan menuju pengakuan UNESCO Global Geopark (UGGp).
Jika berhasil lolos hingga tahap penilaian UNESCO, Sangkulirang-Mangkalihat akan menjadi geopark pertama di Kalimantan Timur yang menyandang status UNESCO Global Geopark sekaligus menjadi geopark kedua di Pulau Kalimantan setelah Geopark Meratus di Kalimantan Selatan yang memperoleh pengakuan UNESCO pada 2025.
Verifikasi Jadi Tahapan Penting Menuju UNESCO
Rangkaian verifikasi diawali dengan pemaparan Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Timur, Sri Wahyuni, yang menjelaskan potensi Geopark Sangkulirang-Mangkalihat di hadapan Tim Verifikasi Geopark Nasional.
Dalam presentasinya, Sri memaparkan kekayaan kawasan mulai dari warisan geologi, keanekaragaman hayati, hingga budaya masyarakat lokal yang selama ini menjadi identitas kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat.
Menurutnya, proses verifikasi menjadi momentum strategis untuk menunjukkan kesiapan Kalimantan Timur dalam mengelola geopark sesuai standar nasional sebagai pijakan menuju pengusulan ke UNESCO.
"Verifikasi lapangan menjadi momentum strategis untuk menunjukkan kesiapan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat sebagai geopark nasional yang memiliki peluang besar untuk diusulkan sebagai UNESCO Global Geopark," ujar Sri sebagaimana diberitakan di situs portal.kaltimprov.go.id.
Bukan Sekadar Pariwisata
Sementara itu, Anggota Tim Verifikasi Geopark Nasional, Prof. Mega Fatimah Rosana, menegaskan bahwa geopark bukan sekadar destinasi wisata.
Menurut Dekan Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran itu, tujuan utama geopark adalah melindungi warisan geologi, keanekaragaman hayati, serta budaya masyarakat yang hidup di dalam kawasan.
"Yang paling utama adalah memastikan kawasan ini terlindungi dengan baik. Pariwisata memang menjadi tujuan akhirnya, tetapi perlindungan terhadap warisan geologi, alam, dan budaya harus menjadi prioritas," katanya.
Ia menjelaskan, selama lima hari tim akan mencocokkan kondisi lapangan dengan dokumen yang telah disusun Badan Pengelola Geopark Sangkulirang-Mangkalihat.
Hasil verifikasi nantinya akan menjadi bahan evaluasi lintas kementerian sebelum kawasan tersebut melangkah ke tahapan berikutnya.
Belajar dari Keberhasilan Meratus
Ketua Tim Kerja Warisan Geologi dan Geopark Pusat Survei Geologi Badan Geologi Kementerian ESDM, Aries Kusworo, mengatakan proses verifikasi juga menjadi ruang evaluasi agar tata kelola geopark semakin baik.
Menurutnya, Indonesia telah memiliki sejumlah kawasan yang berhasil memperoleh pengakuan UNESCO Global Geopark.
Di Pulau Kalimantan sendiri, baru Meratus UNESCO Global Geopark di Kalimantan Selatan yang berhasil memperoleh status tersebut pada 2025.
"Geopark Meratus sudah berhasil masuk dalam jaringan UNESCO. Harapannya, dalam beberapa tahun mendatang Geopark Sangkulirang-Mangkalihat juga dapat menyusul dan memperoleh pengakuan yang sama," ujar Aries.
- Biro Kesra Buka Data Verifikasi Gratispol, Tiga Mahasiswa Pelapor Ditolak Sistem karena Usia Tak Sesuai Pergub 24/2025
- Kenapa Nama Mahasiswa Muncul Lalu Hilang dari Gratispol? Pemprov Kaltim Jelaskan Perbedaan Usulan Kampus, Verifikasi Sistem, dan SK Gubernur
- Dari Sangatta hingga Berau, Ini Deretan Perusahaan Tambang Batu Bara yang Beroperasi di Kalimantan Timur
Tim Tinjau Geosite Hingga Pelibatan Masyarakat
Selama proses verifikasi berlangsung, tim akan mengunjungi berbagai geosite yang berada di kawasan Sangkulirang-Mangkalihat.
Peninjauan dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi kawasan, sistem pengelolaan, pelibatan masyarakat lokal, hingga upaya konservasi yang telah berjalan.
Aspek-aspek tersebut menjadi bagian penting dalam penilaian geopark karena UNESCO tidak hanya menilai kekayaan geologi, tetapi juga bagaimana kawasan dikelola secara berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.
Sangkulirang-Mangkalihat Simpan Kekayaan Dunia
Geopark Sangkulirang-Mangkalihat yang berada di Kabupaten Kutai Timur dan Berau dikenal sebagai salah satu kawasan karst tropis terbesar di Asia Tenggara.
Kawasan ini menyimpan ratusan gua prasejarah dengan lukisan cadas yang diperkirakan berusia puluhan ribu tahun, keanekaragaman hayati yang tinggi, serta bentang alam karst yang menjadi habitat berbagai flora dan fauna endemik Kalimantan.
Potensi geologi, budaya, dan biodiversitas itulah yang menjadi modal utama Kalimantan Timur untuk mengejar pengakuan UNESCO.
Indonesia Kini Miliki 12 UNESCO Global Geopark
Hingga saat ini, Indonesia telah memiliki 12 UNESCO Global Geopark, yakni:
- Batur (Bali)
- Gunung Sewu
- Rinjani-Lombok
- Ciletuh-Palabuhanratu
- Toba Caldera
- Belitong
- Raja Ampat
- Maros Pangkep
- Merangin Jambi
- Ijen
- Kebumen
- Meratus
Dari seluruh daftar tersebut, Meratus menjadi satu-satunya geopark di Pulau Kalimantan yang telah diakui UNESCO.
Karena itu, keberhasilan Sangkulirang-Mangkalihat nantinya tidak hanya menjadi sejarah bagi Kalimantan Timur, tetapi juga memperkuat posisi Pulau Kalimantan sebagai kawasan yang memiliki warisan geologi kelas dunia.
Pemprov Kalimantan Timur berharap proses verifikasi nasional menjadi pijakan penting menuju pengakuan UNESCO.
Selain meningkatkan citra daerah di tingkat internasional, status UNESCO Global Geopark diyakini mampu mendorong pertumbuhan pariwisata berbasis konservasi, membuka peluang ekonomi masyarakat lokal, serta memperkuat upaya pelestarian warisan geologi, alam, dan budaya bagi generasi mendatang. (pra)
- Syarifatul Sya'diah Sebut Berau Tak Cuma Derawan, Sangkulirang-Mangkalihat Punya Gua Tapak Tangan Purba dan Puncak Ketepu
- Firnadi Ikhsan Sebut Geopark Sangkulirang-Mangkalihat Jadi Investasi Masa Depan Kaltim, Bidik Pengakuan UNESCO
- Deretan Anggota DPRD Kaltim Lulusan S2, Banyak yang Sabet Gelar Magister di Karang Paci




