Usulan pun disesuaikan menjadi dua rombel SD dan dua rombel SMA.
Setelah tim dari Satker Pelaksana Sarana Strategis Kementerian PUPR melakukan verifikasi lapangan, ditemukan bahwa kapasitas gedung SMA 16 Samarinda tidak memungkinkan untuk empat rombel.
Akhirnya diputuskan hanya tiga rombel yang dijalankan, yakni dua SD dan satu SMA, masing-masing berisi 25 siswa.
Total siswa yang akan mengikuti kegiatan belajar mengajar sebanyak 75 orang dari 10 kabupaten/kota di Kaltim.
Kekurangan Ruang Belajar, Laboratorium Jadi Alternatif
Salah satu yang menjadi masalah adalah ketersediaan ruang kelas di SMA 16.
SMA 16 yang sebelumnya ditargetkan menyediakan ruang belajar, ternyata telah lebih dulu menerima siswa baru sehingga ruang kelasnya sudah terpakai.
Pilihan yang tersisa adalah penggunaan laboratorium sebagai ruang belajar.
“Laboratorium masih dianggap layak oleh tim verifikasi PUPR. Tapi tetap perlu penyesuaian seperti partisi ruangan, pengaturan jam belajar, serta modifikasi halaman untuk aktivitas luar ruang seperti upacara dan olahraga,” terang Andi.
Meski pelaksanaan tidak serentak, rintisan Sekolah Rakyat di SMA 16 tetap dijadwalkan berlangsung pada tahun ajaran 2025/2026.
Namun, program rintisan di SMA 16 hanya bersifat sementara selama satu tahun.
Tahun berikutnya, seluruh kegiatan akan dipindahkan ke gedung permanen Sekolah Rakyat di Bukit Biru, Tenggarong, yang saat ini masih dalam proses verifikasi lahan untuk pembangunan.
“Kami targetkan satu tahun saja di SMA 16. Sambil menunggu pembangunan gedung permanen selesai, kita optimalkan dulu lokasi yang ada,” pungkas Andi.
Tag



