ARUSBAWAH.CO - Di tengah riuh musik, aroma kuliner tradisional, dan lalu-lalang pengunjung yang memenuhi Citra Niaga, Festival Tempoe Doeloe KALA FEST 2026 kembali menghadirkan wajah lama kota dalam balutan suasana yang terasa hangat dan nostalgia.
Digelar pada 5–7 Juni 2026, festival yang memasuki tahun kedua ini sukses menyedot antusiasme masyarakat.
Ribuan pengunjung memadati kawasan bersejarah tersebut setiap harinya, menjadikannya kembali hidup sebagai ruang publik yang penuh interaksi budaya.
Citra Niaga Kembali Jadi “Panggung Kota”
KALA FEST atau Kalimantan Art Culture and Lokal Aktie Festival tahun ini mengusung tema Festival Tempoe Doeloe.
Selama tiga hari, Citra Niaga berubah menjadi ruang pertemuan lintas generasi—dari pertunjukan seni, parade busana jadul, hingga deretan kuliner tradisional dan komunitas kreatif.
Pengunjung datang silih berganti sejak sore hingga malam hari, memenuhi area panggung utama, lorong tenant, hingga zona kuliner yang dipadati pelaku UMKM lokal.
Estimasi panitia, jumlah pengunjung mencapai 7.000 hingga 10.000 orang per hari, atau sekitar 21.000 hingga 30.000 orang selama pelaksanaan festival.
Azazi: “Ini Bukan Sekadar Festival, Tapi Ingatan Kolektif”

Inisiator KALA FEST, Dr. Rahmad Azazi Rhomantoro, menilai festival ini memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar hiburan. Menurutnya, konsep tempoe doeloe menjadi cara untuk menghidupkan kembali memori kolektif masyarakat terhadap ruang kota.
“Ini bukan sekadar festival. Ini cara kita menjaga ingatan kota, bagaimana masyarakat pernah hidup, berinteraksi, dan membangun identitasnya di ruang-ruang seperti Citra Niaga,” ujar Azazi.
Ia menekankan bahwa ruang publik berbasis sejarah perlu terus dihidupkan agar tidak kehilangan makna di tengah perkembangan kota modern.
Ruang Budaya yang Juga Menggerakkan Ekonomi
Selain menjadi ruang ekspresi seni dan budaya, KALA FEST juga memberi dampak ekonomi langsung bagi pelaku usaha lokal.
Kehadiran ratusan UMKM dan komunitas kreatif membuat perputaran aktivitas ekonomi meningkat selama festival berlangsung.
Para pelaku usaha memanfaatkan momentum ini untuk memperkenalkan produk lokal kepada ribuan pengunjung yang datang dari berbagai kalangan.
Dari Nostalgia ke Identitas Kota
Keberhasilan KALA FEST 2026 menegaskan posisinya sebagai salah satu agenda budaya yang mulai diperhitungkan di Kalimantan Timur.
Lebih dari sekadar perayaan, festival ini menjadi ruang untuk merawat identitas kota melalui pendekatan budaya yang inklusif dan mudah diterima masyarakat.
Dengan semangat kolaborasi, KALA FEST diharapkan terus berlanjut sebagai agenda tahunan yang tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menjaga hubungan antara warga, sejarah, dan ruang kota yang mereka tinggali. (red)




