Arus Publik

Jurnalis Samarinda: Pak Bahlil, Lubang Tambang Terbuka di Berau Dekat Banget dengan Sungai!

Senin, 26 Januari 2026 13:47

LUBANG TAMBANG - Hasil investigasi lapangan mengungkap jarak sangat kritis antara lubang tambang terbuka (open pit) dengan aliran utama Sungai Kelay, salah satu sungai vital bagi kehidupan warga Berau/ HO to Arusbawah.co

ARUSBAWAH.CO -  Kekhawatiran serius kembali mengemuka terkait aktivitas pertambangan batu bara di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

Hasil penelusuran lapangan mengungkap jarak sangat kritis antara lubang tambang terbuka (open pit) dengan aliran utama Sungai Kelay, salah satu sungai vital bagi kehidupan warga Berau.

Temuan ini merupakan bagian dari penelusuran Jaringan Penulis Alam (JPA), forum jurnalis lintas media yang fokus mengawasi isu lingkungan dan tata kelola sumber daya alam.

Sejumlah jurnalis Samarinda turut terlibat langsung dalam penelusuran lokasi tambang yang videonya sempat viral di media sosial.

Arusbawah.co, media online berbasis di Samarinda juga ikut dalam penelusuran tersebut. 

Penelusuran dilakukan dengan mendatangi langsung lokasi, dengan menggunakan drone sebagai pantauan udara. 

Ungkap Jarak Tambang dan Sungai Sangat Berisiko

Berdasarkan dokumentasi foto udara hasil penelusuran, aktivitas pengerukan batu bara di lokasi tersebut hanya dipisahkan oleh tanggul tanah yang sangat sempit dari badan Sungai Kelay.

Tak hanya itu, di atas punggungan tanggul tersebut juga terlihat jalur operasional kendaraan berat tambang.

Kondisi ini dinilai meningkatkan risiko ketidakstabilan struktur tanggul akibat beban kendaraan dan getaran yang terjadi secara terus-menerus.

“Ini bukan sekadar soal jarak. Tanggulnya dipakai lalu lintas alat berat. Kalau hujan besar, risikonya sangat tinggi,” ungkap Anjas Pratama, jurnalis Arusbawah.co yang ambil bagian dalam penelusuran.

Ancaman Ganda: Sungai Tercemar atau Pit Tambang Tenggelam

Kedekatan ekstrem antara open pit dan sungai menciptakan ancaman ganda.

Di satu sisi, air Sungai Kelay berpotensi menerobos dan menenggelamkan area tambang.

Di sisi lain, runtuhan material tambang bisa langsung mencemari sungai, menyebabkan pendangkalan, pencemaran, dan gangguan serius pada ekosistem air.

Sungai Kelay sendiri merupakan urat nadi masyarakat Berau.

Sungai ini berfungsi sebagai sumber air baku, jalur transportasi, hingga penopang ekosistem bagi kampung-kampung dan masyarakat adat di sepanjang alirannya.

Trauma Bencana 2021 Menghantui Warga Berau

Temuan ini mengingatkan kembali pada tragedi jebolnya tanggul tambang PT Rantaupanjang Utama Bhakti (RUB) di Kecamatan Sambaliung pada Mei 2021 silam. Saat itu, luapan Sungai Kelay menghancurkan tanggul perusahaan dan menenggelamkan pit tambang aktif.

Dampaknya sangat luas:

  • Akses darat menuju Kampung Bena Baru terputus total
  • Warga terpaksa mengungsi ke dataran tinggi
  • Tidak ada sistem peringatan dini saat tanggul jebol

Melihat kondisi terbaru hasil investigasi JPA, potensi kejadian serupa—bahkan dengan skala lebih besar—dinilai sangat mungkin terulang, mengingat kedalaman lubang tambang yang terlihat dalam dokumentasi udara.

Jurnalis Samarinda Minta Atensi Menteri ESDM

Awaluddin Jalill, jurnalis Samarinda yang ikut menelusuri kasus tambang viral di Berau, menegaskan bahwa kondisi ini harus segera menjadi perhatian pemerintah pusat, khususnya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Ia meminta ada atensi dari Menteri ESDM, Bahlil Lahadlia. 

“Dari hasil penelusuran ini, kami ingin bilang: Pak Bahlil, open pit tambang di Berau dekat banget dengan sungai. Ini harus jadi atensi pusat,” tegas Jalill.

Menurutnya, pengabaian terhadap jarak aman tambang dari badan sungai merupakan bom waktu lingkungan yang bisa meledak kapan saja, terutama saat curah hujan tinggi di wilayah hulu.

JATAM Kaltim: Lubang Tambang Lebih Dalam dari Sungai Kelai

Kekhawatiran serupa disampaikan Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) Kalimantan Timur.

Mereka menilai kondisi tambang di Berau saat ini telah melampaui sekadar pencemaran air dan sedimentasi.

Lubang tambang di DAS Kelai kini bahkan lebih dalam dari aliran Sungai Kelai itu sendiri. Ini ancaman nyata,” tegas Dinamisator JATAM Kaltim, Mustari Sihombing. 

Berdasarkan data overlay perizinan, terdapat 94 konsesi tambang di Kabupaten Berau, dengan 7 konsesi berada di wilayah hulu dan tengah DAS Kelai.

Aktivitas tersebut telah mengubah bentang alam secara masif, dari pembabatan hutan hingga pengerukan tanah puluhan meter tanpa pemulihan memadai.

Banjir Berulang Bukan Sekadar Bencana Alam

JATAM mencatat, lubang-lubang tambang kini berfungsi layaknya perangkap bencana.

Saat hujan deras, air dari hulu mengalir tanpa hambatan hutan, membawa lumpur dan limbah tambang ke Sungai Kelai. Akibatnya, pendangkalan sungai dan banjir berulang menjadi ancaman tahunan.

Ironisnya, bencana ini kerap disederhanakan sebagai fenomena alam semata.

Padahal, menurut JATAM, kerusakan ekologis akibat tambang telah melampaui daya dukung lingkungan.

Lubang tambang lebih dalam dari sungai bukan hanya simbol kerakusan ekstraktivisme, tapi juga bukti kegagalan negara melindungi ruang hidup rakyat,” tegas Mustari Sihombing. 

JATAM Kaltim Desak Audit dan Pembekuan Tambang

Atas kondisi tersebut, JATAM Kaltim mendesak:

  1. Audit lingkungan menyeluruh terhadap seluruh perusahaan tambang di Berau
  2. Pembekuan seluruh aktivitas tambang selama proses audit
  3. Penegakan hukum tegas dan transparan terhadap perusahaan bermasalah
  4. Pemulihan total kerusakan lingkungan akibat tambang batu bara

“Jika negara terus membiarkan lubang tambang lebih dalam dari sungai, maka yang digali bukan hanya tanah Berau, tetapi juga masa depan dan keselamatan masyarakatnya,” pungkas Mustari Sihombing. (pra)

 

Tag

MORE