Sungai Kelay sendiri merupakan urat nadi masyarakat Berau.
Sungai ini berfungsi sebagai sumber air baku, jalur transportasi, hingga penopang ekosistem bagi kampung-kampung dan masyarakat adat di sepanjang alirannya.
Trauma Bencana 2021 Menghantui Warga Berau
Temuan ini mengingatkan kembali pada tragedi jebolnya tanggul tambang PT Rantaupanjang Utama Bhakti (RUB) di Kecamatan Sambaliung pada Mei 2021 silam. Saat itu, luapan Sungai Kelay menghancurkan tanggul perusahaan dan menenggelamkan pit tambang aktif.
Dampaknya sangat luas:
- Akses darat menuju Kampung Bena Baru terputus total
- Warga terpaksa mengungsi ke dataran tinggi
- Tidak ada sistem peringatan dini saat tanggul jebol
Melihat kondisi terbaru hasil investigasi JPA, potensi kejadian serupa—bahkan dengan skala lebih besar—dinilai sangat mungkin terulang, mengingat kedalaman lubang tambang yang terlihat dalam dokumentasi udara.
Jurnalis Samarinda Minta Atensi Menteri ESDM
Awaluddin Jalill, jurnalis Samarinda yang ikut menelusuri kasus tambang viral di Berau, menegaskan bahwa kondisi ini harus segera menjadi perhatian pemerintah pusat, khususnya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Ia meminta ada atensi dari Menteri ESDM, Bahlil Lahadlia.
“Dari hasil penelusuran ini, kami ingin bilang: Pak Bahlil, open pit tambang di Berau dekat banget dengan sungai. Ini harus jadi atensi pusat,” tegas Jalill.
Menurutnya, pengabaian terhadap jarak aman tambang dari badan sungai merupakan bom waktu lingkungan yang bisa meledak kapan saja, terutama saat curah hujan tinggi di wilayah hulu.
JATAM Kaltim: Lubang Tambang Lebih Dalam dari Sungai Kelai
Kekhawatiran serupa disampaikan Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) Kalimantan Timur.
Mereka menilai kondisi tambang di Berau saat ini telah melampaui sekadar pencemaran air dan sedimentasi.
Tag



