Arus Publik

Jenlap Demo 214, Fathur Rahman Ditawari Rp50 Juta dari Orang Tak dikenal: 'Marwah Kaltim Tak Boleh Dinodai dengan Uang'

Dugaan Penyuapan Jelang Demo 21 April 2026 di Samarinda

Senin, 18 Mei 2026 11:46

DISOGOK RP50 JUTA - Jenderal Lapangan (Jenlap) dari gerakan aksi Aliansi Rakyat Kaltim (ARK) Fathur Rahman (kiri) dan Kamarul Azwan (kanan) ditemui Arusbawah.co usai diskusi publik bertajuk “Kepung 7 Fraksi DPRD Kaltim"; ‘Menguji Keberanian dan Integritas DPRD Provinsi Kaltim dalam melaksanakan Hak

ARUSBAWAH.CO -   “Harga diri kami enggak bisa dibayar dengan uang.”

Kalimat itu dilontarkan tegas oleh Jenderal Lapangan (Jenlap) Aliansi Rakyat Kaltim (ARK), Fathur Rahman, saat mengungkap dugaan upaya penyuapan terhadap dirinya menjelang aksi demonstrasi besar 21 April 2026 lalu di Samarinda.

Kepada Arusbawah.co, Fathur Rahman mengaku sempat ditawari uang sebesar Rp50 juta agar mundur dari posisi komando lapangan dan menghentikan pergerakan aksi yang saat itu mulai memanas di Kaltim.

Pengakuan itu disampaikan Fathur Rahman saat diwawacarai usai menghadiri diskusi publik bertajuk “Kepung 7 Fraksi DPRD Kaltim: Menguji Keberanian dan Integritas DPRD Provinsi Kaltim dalam Melaksanakan Hak Angket”, Sabtu (16/5/2026) malam di Cafe D’Bagios, Kota Samarinda.

Tawaran Rp50 Juta Disebut Datang Lewat Pihak Ketiga

Mengenakan kemeja batik, Fathur Rahman membenarkan adanya tawaran uang Rp50 juta tersebut.

Namun ia menegaskan, sogokan itu ditujukan kepada dirinya secara personal, bukan kepada Aliansi Rakyat Kaltim secara keseluruhan.

“Betul adanya, tapi sogokan itu bukan ke aliansi, melainkan ke diri saya sendiri,” kata Fathur kepada wartawan.

Ia menjelaskan, upaya penggembosan gerakan itu terjadi tepat tiga hari sebelum gelombang demonstrasi Aksi 214 pecah di Samarinda pada 21 April 2026 lalu.

Menurut Fathur Rahman, modusnya dilakukan melalui pihak ketiga.

Awalnya, ia dihubungi oleh seorang rekannya untuk bertemu.

Dalam pertemuan itu, rekannya menyampaikan ada “titipan pesan” dari seseorang yang identitasnya juga tidak diketahui.

Pesan itu berisi permintaan agar Fathur Rahman mundur dari posisi jenderal lapangan (Jenlap) aksi demonstrasi.

 

Fathur Rahman Ceritakan Kronologi Pertemuan

“Jadi kronologinya waktu itu saya diminta ketemu oleh salah satu teman saya. Dikatakan ada pesan dari seseorang, dia juga enggak tahu dari siapa. Ada titipan dengan syarat saya harus mundur dari posisi jenderal lapangan aksi,” ungkapnya.

Ketika ditanya lebih jauh mengenai nilai uang yang ditawarkan, Fathur menyebut nominalnya berada di kisaran puluhan juta rupiah.

“Ada di kisaran puluhan, Rp50 juta,” tegasnya.

Meski begitu, Fathur Rahman memastikan dirinya tidak membawa uang apa pun dari pertemuan tersebut.

“Enggak dibawa,” jawabnya singkat saat ditanya apakah uang sogokan itu sempat ia bawa.

Dalang di Balik Tawaran Uang Rp50 Juta Masih Misterius

Fathur Rahman mengaku sampai hari ini belum mengetahui siapa dalang di balik tawaran uang tersebut.

Ia belum bisa memastikan apakah pihak ketiga itu bergerak atas nama pribadi, kelompok tertentu, atau bahkan memiliki keterkaitan partai politik.

“Nah itu yang belum saya tahu,” ujarnya saat ditanya apakah pihak tersebut mengatasnamakan partai, golongan, atau kepentingan tertentu.

Namun di tengah dugaan adanya upaya membungkam gerakan rakyat dengan uang, Fathur Rahman memastikan dirinya memilih menolak tawaran uang tersebut.

Ia menegaskan perjuangan yang dibawa Aliansi Rakyat Kaltim lahir dari keresahan masyarakat, sehingga tidak bisa dihentikan hanya dengan transaksi politik atau iming-iming materi.

“Dan dari saya sendiri saya menolak untuk hal itu karena apa yang kita perjuangkan hari ini itu murni dari rakyat,” katanya.

Fathur Rahman: "Marwah Kaltim Tidak Bisa Dibeli dengan Uang"

Menurutnya, gerakan mahasiswa dan masyarakat sipil di Kaltim tidak boleh kehilangan marwah hanya karena permainan uang di belakang layar.

“Maka kepercayaan yang harus kita jaga bukan masalah materi, bukan masalah uang,” lanjutnya.

Di akhir pernyataannya, Fathur melontarkan pesan kepada pihak-pihak yang mencoba mengintervensi gerakan rakyat di Bumi Etam.

“Harga diri kami enggak bisa dibayar dengan uang. Harga diri masyarakat tidak bisa dibayar dengan uang. Marwah Kaltim tidak boleh dinodai dengan uang,” tegasnya.

“Hari ini kami menjaga marwah Kaltim itu sendiri,” pungkasnya.

(wan)

 

Tag

MORE