ARUSBAWAH.CO - “Harga diri kami enggak bisa dibayar dengan uang.”
Kalimat itu dilontarkan tegas oleh Jenderal Lapangan (Jenlap) Aliansi Rakyat Kaltim (ARK), Fathur Rahman, saat mengungkap dugaan upaya penyuapan terhadap dirinya menjelang aksi demonstrasi besar 21 April 2026 lalu di Samarinda.
Kepada Arusbawah.co, Fathur Rahman mengaku sempat ditawari uang sebesar Rp50 juta agar mundur dari posisi komando lapangan dan menghentikan pergerakan aksi yang saat itu mulai memanas di Kaltim.
Pengakuan itu disampaikan Fathur Rahman saat diwawacarai usai menghadiri diskusi publik bertajuk “Kepung 7 Fraksi DPRD Kaltim: Menguji Keberanian dan Integritas DPRD Provinsi Kaltim dalam Melaksanakan Hak Angket”, Sabtu (16/5/2026) malam di Cafe D’Bagios, Kota Samarinda.
Tawaran Rp50 Juta Disebut Datang Lewat Pihak Ketiga
Mengenakan kemeja batik, Fathur Rahman membenarkan adanya tawaran uang Rp50 juta tersebut.
Namun ia menegaskan, sogokan itu ditujukan kepada dirinya secara personal, bukan kepada Aliansi Rakyat Kaltim secara keseluruhan.
“Betul adanya, tapi sogokan itu bukan ke aliansi, melainkan ke diri saya sendiri,” kata Fathur kepada wartawan.
Ia menjelaskan, upaya penggembosan gerakan itu terjadi tepat tiga hari sebelum gelombang demonstrasi Aksi 214 pecah di Samarinda pada 21 April 2026 lalu.
Menurut Fathur Rahman, modusnya dilakukan melalui pihak ketiga.
Awalnya, ia dihubungi oleh seorang rekannya untuk bertemu.
Dalam pertemuan itu, rekannya menyampaikan ada “titipan pesan” dari seseorang yang identitasnya juga tidak diketahui.
Pesan itu berisi permintaan agar Fathur Rahman mundur dari posisi jenderal lapangan (Jenlap) aksi demonstrasi.
Tag



