ARUSBAWAH.CO - Penabrakan Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu) Samarinda terjadi terus menerus.
Dalam rentang waktu kurang dari dua pekan, dua insiden kapal tongkang menghantam pilar jembatan yang menjadi urat nadi penghubung wilayah hulu Samarinda itu.
Bukan karena soal cuaca atau arus sungai semata, tapi soal sistem tambat dan pengawasan yang saling dilempar tanggung jawab antara otoritas pelabuhan dan operator jasa pemanduan.
Dua Insiden Beruntun dalam Waktu Kurang dari Dua Pekan
Insiden pertama terjadi pada 23 Desember 2025 sekitar pukul 05.30 Wita.
Tongkang bernomor M80-1302 yang ditarik tugboat KD2018 menghantam pilar Jembatan Mahulu saat bermanuver di Sungai Mahakam.
Belum genap dua minggu, kejadian serupa terulang pada 3 Januari 2026.
Dua tongkang bermuatan batu bara, Roby-311 yang ditarik tugboat Bloro-7 serta Danny-95 yang ditarik tugboat Raja Laksana-166, kembali menabrak pilar jembatan setelah gagal bermanuver saat hendak tambat.
KSOP Atensi Sistem Tambat Tak Tertib di Sekitar Jembatan
Menanggapi kejadian itu, Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Samarinda, Mursidi, menilai akar masalah bukan pada lalu lintas kapal semata, melainkan sistem tambat yang tak tertib dan dibiarkan berkembang liar di sekitar jembatan Mahulu.
“Karena fender dolphin-nya yang enggak ada, kita akan mengganti dolphin yang berbentuk kapal takbut. Nanti kita sesuaikan jumlahnya. Kita akan tambah untuk mengganti dolphin yang tertabrak itu,” ujar Mursidi, saat diwawancara awak media pada, Senin (5/1/2026).
Menurut dia, insiden dipicu kapal yang larat akibat bertambat di lokasi yang tidak semestinya.
“Kebanyakan memang ini kapal larat karena tambat di tempat yang tidak semestinya,” katanya.
Tag



