ARUSBAWAH.CO - Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur (Disbun Kaltim) tengah mendorong hilirisasi komoditas aren, termasuk produk turunannya seperti gula merah dan gula semut.
Upaya ini dilakukan dengan memperkuat sisi hulu, mulai dari penyediaan lahan hingga bibit aren berkualitas.
Pelaksana Tugas Kepala Disbun Kaltim, Andi Siddik, menyebutkan bahwa komoditas aren menyimpan potensi ekonomi besar bagi pekebun maupun perajin.
Karena itu, penguatan perkebunan aren menjadi agenda penting dalam pengembangan hilirisasi di daerah.
Mengurangi Ketergantungan Pasokan dari Luar Daerah
Saat ini, sebagian besar gula merah dan gula semut di Kaltim masih dipasok dari daerah lain, seperti Sulawesi dan Jawa.
Agar tidak bergantung pada pasokan luar, produksi aren lokal harus dimaksimalkan untuk memperkuat bahan baku.
Untuk menjaga keberlanjutan, para petani terus didorong membudidayakan tanaman aren dengan benih unggul bersertifikat.
Syarat utama pemenuhan benih unggul tersebut meliputi penetapan kebun sumber benih oleh Kementerian Pertanian, keberadaan produsen benih resmi, serta ketersediaan bibit berkualitas.
Data Perkebunan Aren di Kaltim
Berdasarkan data statistik perkebunan tahun 2023, luas tanaman aren di Kalimantan Timur mencapai 1.132 hektare, dengan produksi sekitar 504,3 ton per tahun, dan melibatkan 1.690 tenaga kerja.
Kabupaten Kutai Barat tercatat sebagai sentra perkebunan aren terbesar, dengan luas 366 hektare, produksi 40 ton, dan serapan tenaga kerja hingga 652 orang.
Setelah itu, posisi berikutnya ditempati oleh Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kutai Timur.
Data tersebut menjadi dasar penting dalam memetakan arah hilirisasi ke depan, terutama karena setiap daerah memiliki perajin gula merah dan produk turunan lainnya.
Sinergi Perkuat Hulu untuk Hilirisasi Aren
Disbun Kaltim juga telah menggelar rapat bersama pemerintah daerah, akademisi, serta pelaku usaha perkebunan aren.
Pertemuan tersebut membahas kepastian produktivitas dan keberlanjutan hulu sebagai fondasi hilirisasi.
“Kami berharap semua pemangku kepentingan bisa bersinergi membangun ekosistem perbenihan yang kuat. Dengan begitu, hilirisasi aren bisa memberikan nilai tambah maksimal bagi komoditas lokal Kaltim,” ungkap Andi Siddik. (adv)




