ARUSBAWAH.CO - Di balik rimbunnya hutan Kelay, Berau, seekor bayi orang utan bernama Hannes sedang belajar kembali menjadi liar—pelan, sabar, dan penuh harapan.
Hannes ditemukan warga di sekitar kawasan Taman Nasional Kutai (TNK) pada Agustus 2025.
Saat itu ia telah terpisah dari induknya. Warga menyerahkan Hannes ke Balai TNK, yang kemudian berkoordinasi dengan BKSDA Kaltim untuk mengevakuasinya ke Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Long Sam, Kampung Merasa.
Tempat itu dikelola oleh Conservation Action Network (CAN), organisasi konservasi yang didirikan anak muda Dayak.

Belajar Memanjat, Makan Daun Muda, dan Membangun Sarang
Di PPS Long Sam, Direktur sekaligus Founder CAN, Paulinus Kristanto, bercerita bagaimana Hannes menjadi salah satu bayi orang utan paling aktif yang mereka rawat.
“Dia gak mau dimanja. Lebih suka berada di atas pohon. Sudah bisa bikin sarang. Ini tanda dia pernah hidup di alam bersama induknya,” katanya.
Meski baru berusia satu tahun, naluri liarnya sangat kuat. Setiap hari Hannes dibawa ke “sekolah hutan”—belajar memanjat, mengenali buah, dan bertahan di alam.
Petang hari ia dibawa pulang kembali ke baby house, karena masih membutuhkan susu dan perawatan intensif.
Hannes datang dalam kondisi fisik yang sehat, namun memperlihatkan stres akibat perpisahan dari induknya.
Perlahan, ia mulai pulih. Naluri liarnya yang masih kuat menjadi modal penting untuk masa depannya.
Jalan Panjang Menuju Kebebasan
Proses rehabilitasi orang utan bukan perjalanan singkat. Butuh waktu hingga 6–8 tahun sebelum seekor bayi siap kembali ke hutan.
CAN dan pemerintah kini bekerja mencari hutan yang cocok—rumah baru tempat Hannes bisa punya kesempatan kedua.
“Tolak ukurnya jelas: perilaku, kemampuan bertahan, dan kesiapan hidup tanpa manusia,” jelas Paulinus.
Harapan dari BKSDA Kaltim
Kepala BKSDA Kaltim, M. Ari Wibawanto, mengatakan proses penyelamatan Hannes berlangsung cepat setelah laporan warga diterima.
“Kita berharap rehabilitasi tidak terlalu lama dan Hannes cukup kuat untuk survive di alam. Potensi untuk kembali liar sangat besar,” katanya.

Tentang Bertahan dan Pulang
Di Long Sam, Hannes tidak sendiri. Ada Lucas, bayi orang utan lain yang juga menjalani perjalanan panjang menuju kebebasan.
Di balik pagar karantina dan teduhnya pohon di sekolah hutan, dua bayi ini tumbuh dengan satu tujuan: pulang ke hutan.
Karena bagi orang utan, hutan bukan sekadar tempat tinggal—itu adalah identitas, memori, dan rumah yang harus terus diperjuangkan.
Konten diproduksi oleh Jurnalis Peduli Satwa di Kalimantan Timur. Berkolaborasi dengan Arusbawah.co
(pra)




