Artinya, jika rata-rata mahasiswa S1 mendapat UKT Rp5 juta, maka dari total Rp136.480.500.000 hanya cukup untuk: Rp136.480.500.000 ÷ Rp5.000.000 = 27.296 mahasiswa.
Angka ini lebih rendah dari jumlah penerima manfaat yang disebut Biro Kesra, yaitu 28.083 mahasiswa.
Dengan kata lain, terdapat selisih sekitar 787 mahasiswa yang belum jelas skema pembiayaannya.
Selain itu, mahasiswa yang UKT-nya melebihi Rp5 juta tetap harus menanggung selisihnya secara pribadi.
Misalnya di Universitas Mulawarman, jika UKT mahasiswa Rp6 juta, maka Gratispol hanya membayar Rp5 juta, sisanya Rp1 juta menjadi tanggungan mahasiswa sendiri.
S2-S3: Hanya Cukup untuk 1.808 Mahasiswa
Begitu juga pada program untuk mahasiswa baru S2 dan S3.
Total anggaran Rp14.464.000.000 disiapkan untuk 2.860 mahasiswa.
Namun, biaya UKT yang ditanggung Gratispol untuk jenjang S2-S3 dipatok minimal Rp8 juta per mahasiswa.
Saat dihitung: Rp14.464.000.000 ÷ Rp8.000.000 = 1.808 mahasiswa.
Ini berarti, jika setiap mahasiswa benar-benar menerima Rp8 juta, hanya 1.808 mahasiswa yang bisa dibiayai.
Jumlah ini terpaut jauh dari target penerima manfaat yang dipublikasikan, yakni 2.860 mahasiswa.
Kondisi itu memunculkan pertanyaan, dari mana menutup kekurangan biaya untuk sekitar 1.000 mahasiswa S2-S3 jika mereka tetap dipaksakan masuk kuota Gratispol 2025?
Kuota Kampus Negeri Terpenuhi, Swasta Masih Kosong
Redaksi Arusbawah.co juga mengkonfirmasi hal ini ke Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat (Karo Kesra) Setda Kaltim, Dasmiah, pada Jumat (19/9/2025).
Saat ditanya soal perbedaan angka janji Rp750 miliar dengan realisasi Rp150,94 miliar, Dasmiah menjelaskan bahwa angka Rp750 miliar itu hanyalah rencana awal.
“Itu dulu waktu baru rencana, sebelum kita sesuaikan dengan kuota berdasarkan PDDIKTI,” kata Dasmiah.
Tag



