Advertorial

Diskominfo Kalimantan Timur

GratisPol di Mata Penerima, Dua Mahasiswa Ceritakan Perjuangan Mengejar Pendidikan Tanpa Biaya (Part 2 - selesai)

Senin, 17 November 2025 18:4

MAHASISWA - Mahasiswa S3 Universitas Mulawarman Ahmad Rifandi/ Arusbawah.co

ARUSBAWAH.CO -  Program Bantuan Pendidikan Gratis Pendidikan Total (GratisPol) kini menjadi salah satu kebijakan paling jadi perhatian publik di Kalimantan Timur.

Diluncurkan oleh Pemprov Kaltim sebagai di kepemimpinan Gubernur Rudy Mas’ud dan Wakil Gubernur Seno Aji, program ini hadir untuk membuka akses pendidikan seluas mungkin—mulai dari jenjang vokasi hingga doktoral.

Di balik gagasan besar itu, dampak paling nyata justru terlihat dari cerita para penerimanya di lapangan.

GratisPol dirancang untuk menanggung biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) mahasiswa Kaltim. 

Skema ini dimaksudkan sebagai solusi bagi keluarga yang selama ini menghadapi kesulitan membiayai studi anak mereka.

Dari kampung hingga kota, dari mahasiswa baru hingga peneliti doktoral, GratisPol menjadi jembatan bagi mereka yang menggantungkan masa depan pada pendidikan.

Meski begitu, implementasi program ini tidak selalu berjalan mulus.

Di balik ribuan mahasiswa yang terbantu, banyak pula cerita tentang berbagai hal, misalnya soal hambatan teknis, keterbatasan pendanaan, hingga tantangan administratif yang masih membayangi pelaksanaannya.

Realitas itu terlihat dari pengalaman langsung para mahasiswa yang merasakan, menjalani, dan menilai sendiri bagaimana GratisPol bekerja.

Ahmad Rifandi: Perspektif Mahasiswa S3 tentang GratisPol

Berbeda dengan Aida (pemberitaan sebelumnya) yang baru memulai pendidikan tinggi, pandangan mahasiswa S3 Universitas Mulawarman Ahmad Rifandi membawa perspektif lain.

Ia juga penerima bantuan pendidikan GratisPol.

Baginya, bantuan itu adalah peluang besar untuk melanjutkan studi doktoral yang sempat tertunda karena biaya.

“Kesempatan ini sangat berharga. Tanpa beasiswa ini mungkin saya akan menunda dulu rencana S3,” katanya, Minggu (16/11/2025).

Lahir di Amuntai tahun 1988 dan besar di Sangatta, Rifandi bukan sosok baru di dunia akademik.

Ia lulus S1 Ilmu Ekonomi di Universitas Lambung Mangkurat dan meraih gelar magister Ekonomi Syariah di UINSI Samarinda.

Kini ia kembali duduk di bangku kuliah, menempuh Program Doktor Ilmu Ekonomi Unmul, sambil tetap bekerja sebagai jurnalis.

“Melanjutkan S3 adalah cara saya memperdalam pemahaman tentang ekonomi sambil melihat langsung implikasinya di lapangan,” ujarnya saat dikonfirmasi terpisah.

Celah Program GratisPol Menurut Rifandi

Namun dari sudut pandang mahasiswa pascasarjana, GratisPol masih memiliki celah besar.

Menurutnya, fokus pendanaan yang hanya menanggung UKT belum cukup menjawab kebutuhan studi doktoral yang identik dengan biaya penelitian tinggi.

“Mahasiswa S3 punya banyak kebutuhan. Biaya penelitian, referensi buku, hingga biaya hidup selama studi. Jika ini bisa terakomodasi, maka dampaknya akan jauh lebih besar,” sebutnya.

Ia membandingkannya dengan skema nasional seperti Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang dikenal menyediakan pendanaan lengkap.

Rifandi menilai GratisPol punya potensi serupa, terlebih Kaltim sedang bersiap menjadi penyangga Ibu Kota Nusantara.

Investasi SDM adalah pondasi masa depan.

“Kalau ekosistemnya semakin kuat, saya yakin akan banyak SDM hebat lahir dari program ini,” ujarnya menutup pandangannya.

 (ir/adv/diskominfokaltim)

Tag

MORE