Menurut Firnadi, konstruksi pile slab, meski biayanya lebih tinggi, adalah pilihan ideal untuk wilayah yang rentan terendam air sungai pasang.
Ia menekankan bahwa investasi besar di awal akan menghindarkan kerusakan berulang di masa depan, yang justru menambah biaya dan membahayakan keselamatan warga.
“Selama ini kita sering melihat jalanan hulu cepat rusak, bahkan putus total ketika air sungai naik. Kalau tidak dibangun dengan konstruksi yang kuat, kondisi ini akan terus terulang,” katanya.
Ia menambahkan, upaya pembangunan infrastruktur di hulu Kukar memerlukan komitmen dan kerja sama dari berbagai pihak.
Pemerintah daerah Kukar tak bisa bekerja sendiri.
Dukungan anggaran dari pemerintah provinsi bahkan pusat sangat dibutuhkan untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. (adv)
Tag



