Arus Publik

Diskusi Publik Arusbawah.co

Enam Catatan Iswandi untuk Probebaya: dari Dana RT sampai Integrasi Program Kota

Iswandi soroti enam catatan penting evaluasi Probebaya

Rabu, 18 Februari 2026 19:42

Ketua DPC PDI Perjuangan Samarinda menyoroti penguatan RT agar program Probebaya efektif/Foto: Arusbawah

ARUSBAWAH.CO -  Enam hal dalam program Probebaya dinilai masih perlu dibenahi. 

Hal itu disampaikan Iswandi, Ketua DPC PDI Perjuangan Samarinda, dalam diskusi publik bertajuk "Probebaya Tanpa AH, Bisa?" yang digelar pada 15 Februari 2026 di Samarinda.  

Ia menegaskan, pembenahan tersebut penting agar siapapun wali kota yang terpilih nanti sudah memiliki arah kebijakan yang jelas dalam menjalankan program tersebut.

Dalam forum tersebut, Iswandi menyampaikan bahwa program berbasis RT itu memiliki potensi besar untuk memperkuat pembangunan di tingkat paling bawah. 

Namun, menurutnya, penguatan sistem menjadi kunci agar program tidak sekadar berjalan sebagai rutinitas anggaran.

Penguatan Akuntabilitas dan Perubahan Fokus

“Yang pertama kita harus memperkuat akuntabilitas, ini menurut saya masalah yang paling krusial mengapa.

Saat ini masalah pada RT masih fokus pada penyerapan dana, belum pada hasil,” ujarnya.

Ia menilai, selama ini ukuran keberhasilan seringkali hanya dilihat dari terserapnya anggaran, bukan dari dampak nyata yang dirasakan masyarakat. 

Karena itu, perubahan orientasi dinilai mendesak untuk dilakukan.

“Yang kedua mengubah fokus dari belanja menjadi dampak.

Selama ini fokus belanja buat apa, tapi jarang dipikirkan dampaknya apa. Makanya menurut saya kalau sudah dibelanjakan harus berdampak,” tegasnya.

Menurut Iswandi, setiap rupiah yang dikeluarkan harus dapat diukur manfaatnya, terutama bagi masyarakat di tingkat RT.

Peningkatan Kapasitas dan Integrasi Program

Selain soal orientasi program, Iswandi juga menyoroti kapasitas dan kompetensi ketua RT sebagai pelaksana di lapangan.

Ia mengakui masih terdapat RT yang belum memiliki visi pembangunan yang jelas, sehingga penggunaan anggaran berpotensi tidak efektif.

“Saya melihat masih banyak RT yang tidak visioner Ini bahaya. Anda tidak visioner dikasih duit suka-suka, nanti hal yang tidak perlu dilakukan akhirnya tidak kelihatan dampaknya,” katanya

Poin berikutnya adalah integrasi program.

Ia menilai Probebaya harus selaras dengan program jangka menengah pemerintah kota serta masuk dalam dokumen perencanaan resmi.

“Kita integrasi dengan RPJMG dan program kota. Kita punya program jangka menengah, masukkan RKPD,” ucapnya.

Menurutnya, tanpa integrasi yang jelas, program berisiko berjalan sendiri-sendiri dan tidak mendukung arah pembangunan kota secara menyeluruh.

 

Pengawasan dan Pengurangan Ketimpangan Wilayah

Iswandi juga menekankan pentingnya perbaikan sistem pengawasan.

Ia menyebut kontrol tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat.

“Sistem pengawasan harus diperbaiki, termasuk warga harus mengawasi kelurahan juga,” tambahnya.

Poin terakhir yang ia soroti adalah fokus pada pengurangan ketimpangan antar wilayah. 

Ia menilai pendekatan pembangunan tidak bisa dilakukan secara seragam tanpa mempertimbangkan kebutuhan spesifik setiap kawasan

“Fokus pengurangan ketimpangan antar wilayah.

Makanya saya katakan tadi harus kita klaster-klaster, jangan asal-asal saja,” jelasnya.

Ia mencontohkan pentingnya pemetaan wilayah sebelum pengalokasian anggaran dilakukan. 

Menurutnya, pemerintah kota perlu melihat kebutuhan riil tiap kecamatan agar pembiayaan lebih tepat sasaran.

“Pemerintah kota membuat klaster dulu, misalnya Kecamatan Sempaja ini sebenarnya yang dibutuhkan apa, Samarinda Ulu, Sungai Pinang. Jadi pembiayaan ini pembiayaan tematik,” paparnya

Dengan pendekatan klasterisasi, kata dia, program tidak hanya berorientasi pada pembagian anggaran secara merata, tetapi benar-benar mempertimbangkan kebutuhan dan tingkat ketimpangan antar wilayah.

Meski memberikan sejumlah catatan, Iswandi menegaskan bahwa Probebaya tetap layak untuk dilanjutkan. 

Namun, ia menekankan penguatan dan perbaikan sistem sebagai syarat utama agar program semakin efektif dan berkelanjutan.

“Kesimpulannya Probebaya layak dilanjutkan namun harus diperkuat dan diperbaiki secara sistem,” pungkasnya.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa evaluasi yang disampaikan bukan untuk menghentikan program, melainkan mendorong penyempurnaan tata kelola. 

Ia menekankan bahwa penguatan sistem akan memastikan program tetap berjalan dengan arah yang jelas, siapapun pemimpin daerah yang menjabat di masa mendatang.

Sekilas Tentang Program Probebaya

Sebagai informasi, Probebaya merupakan program pembangunan dan pemberdayaan masyarakat di tingkat RT yang selama ini menjadi salah satu instrumen Pemerintah Kota Samarinda dalam mendekatkan pembangunan hingga ke lingkungan terkecil. 

Program ini menyalurkan anggaran langsung ke RT untuk mendukung kegiatan infrastruktur maupun pemberdayaan masyarakat.

Dengan enam catatan tersebut, Iswandi berharap Probebaya tidak hanya menjadi program rutin tahunan, tetapi benar-benar menjadi kebijakan strategis yang berdampak nyata dan mampu mengurangi ketimpangan pembangunan antar wilayah di Kota Samarinda. (son)

 

Tag

MORE