ARUSBAWAH.CO - Kalimantan Timur (Kaltim) pada 2025 mencatat capaian besar dalam sektor energi.
Berdasarkan Data Energi Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2016–2025, tingkat elektrifikasi daerah ini telah mencapai 96,17 persen, menandakan hampir seluruh rumah tangga sudah menikmati akses listrik.
Namun di balik capaian tersebut, masih tersisa persoalan klasik yang belum tuntas: sekitar 52.017 kepala keluarga (KK) masih belum tersambung listrik.
Elektrifikasi Kaltim Hampir Tuntas, Tembus 1,3 Juta KK Teraliri
Data terbaru menunjukkan struktur kelistrikan rumah tangga di Kaltim terbagi sebagai berikut:
- Pengguna listrik PLN: 1.244.045 KK
- Non-PLN (mandiri/off-grid): 62.559 KK
- Belum berlistrik: 52.017 KK
Jika digabungkan, total rumah tangga yang sudah menikmati listrik mencapai sekitar 1.306.604 KK dari total 1.358.621 KK.
Angka ini menegaskan bahwa Kaltim sudah masuk fase near universal electrification atau hampir seluruh wilayah telah terjangkau listrik.
Rasio 96,17 Persen: Dekat Sempurna, Tapi Belum Selesai
Dengan rasio elektrifikasi 96,17 persen, Kaltim secara umum sudah berada di atas rata-rata banyak daerah di Indonesia.
Namun angka ini juga memperlihatkan satu hal penting: gap terakhir sekitar 4 persen masih tersisa dan cenderung lebih sulit ditangani dibanding fase awal elektrifikasi.
Masalahnya kini bukan lagi soal pembangunan jaringan secara massal, melainkan penyelesaian titik-titik terakhir yang secara geografis dan ekonomi lebih menantang.
52 Ribu KK Belum Listrik: Tantangan “Last Mile” Energi
Kelompok 52.017 KK yang belum berlistrik menjadi sorotan utama dalam peta energi Kaltim 2025.
Secara karakteristik, wilayah yang belum terjangkau listrik umumnya berada di:
- Daerah pedalaman dan hulu sungai
- Permukiman terpencil dengan akses infrastruktur terbatas
- Kawasan dengan biaya pembangunan jaringan listrik yang tinggi
Kondisi ini membuat elektrifikasi tidak lagi sekadar persoalan kapasitas listrik, tetapi sudah masuk ke ranah distribusi dan keterjangkauan wilayah ekstrem.
Dalam konteks ini, tantangan yang dihadapi bukan kekurangan energi, melainkan biaya dan kompleksitas memperluas jaringan ke lokasi terakhir (last-mile electrification).
Kebutuhan Energi: Relatif Kecil, Tapi Dampaknya Besar
Jika dihitung secara estimasi, 52.017 KK yang belum berlistrik diperkirakan membutuhkan:
- 7,8 – 13 juta kWh per bulan, atau
- sekitar 0,26 – 0,43 GWh per hari
Secara sistem kelistrikan regional, angka ini relatif kecil dibanding kapasitas pembangkit yang ada di Kalimantan.
Namun secara sosial, dampaknya sangat besar karena menyangkut akses dasar masyarakat terhadap layanan listrik. (pra)
- Ini Daftar Kawasan Industri dalam RTRW Samarinda 2023–2042, Totalnya Capai 3.768 Hektare
- 500 Rumah di Kubar-Mahulu Direhab Menteri PKP, Ekti Imanuel: 'APBN Semua, Pemkab Cuma Siapkan Data'
- 623.937 Perempuan Putus Asa Cari Kerja dalam Laporan CELIOS: Bukan Karena Tidak Mampu, tapi Pasar Kerja yang Diskriminatif




