ARUSBAWAH.CO - Sebanyak 623.937 perempuan usia 15–65 tahun di Indonesia tercatat telah berhenti mencari pekerjaan.
Mereka tidak masuk dalam kategori pengangguran terbuka karena tidak lagi aktif melamar, bukan karena sudah mendapat pekerjaan, melainkan karena kehilangan harapan bahwa pasar kerja akan menerima mereka.
Laporan CELIOS Republik Oligarki: Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026 menyebut kelompok ini sebagai perempuan yang putus asa mencari kerja.
Data tersebut bersumber dari Sakernas Agustus 2025 yang diolah tim peneliti CELIOS.
Temuan ini menegaskan bahwa persoalan partisipasi perempuan di pasar kerja Indonesia bukan semata masalah kualifikasi atau kesiapan individu, melainkan persoalan struktural yang belum mendapat penanganan serius dari kebijakan publik.
Diskriminasi Berlapis Berdasarkan Status Perkawinan dan Usia
Data CELIOS menunjukkan bahwa kelompok perempuan yang paling banyak masuk kategori putus asa mencari kerja terbagi berdasarkan status perkawinan, dan masing-masing menghadapi bentuk diskriminasi yang berbeda namun sama-sama sistemik.
Pada kelompok perempuan yang belum menikah, 77,32 persen yang putus asa didominasi usia 15–30 tahun.
Ini berarti perempuan muda yang baru memasuki angkatan kerja sudah mengalami keputusasaan di usia paling produktif mereka, hal ini bukan karena absennya kompetensi, melainkan karena pasar kerja tidak menyerap mereka secara proporsional.
Pada kelompok perempuan yang sudah menikah, 50,83 persen terhambat oleh diskriminasi berbasis status perkawinan.
Tag



