Arus Terkini

Drama Musikal “RANAM BANUA”: Ketika Alam, Seni, dan Manusia Bertemu Kembali

Kamis, 6 November 2025 16:41

FLYER DRAMA MUSIKAL - RANAM BANUA, sebuah drama musikal yang memadukan cinta, kritik sosial, dan keindahan budaya Kalimantan Timur.

ARUSBAWAH.CO -  Dari jantung hutan Kalimantan, kisah tentang manusia, alam, dan budaya hadir lewat panggung megah bertajuk “RANAM BANUA”, sebuah drama musikal yang memadukan cinta, kritik sosial, dan keindahan budaya Kalimantan Timur.

Digelar di Gedung Rizani Asnawi, Taman Budaya Provinsi Kalimantan Timur, pada Rabu (5/11/2025) malam, pertunjukan ini diselenggarakan oleh LPP RRI Samarinda, dengan dukungan Tirtonegoro Foundation dan Raden Management.

Sejumlah media lokal turut menjadi partner publikasi, di antaranya Katuju.id, Prokal.co, Media Kaltim, AVN Media, Tentang Samarinda, dan Arus Bawah.

Perpaduan Musik, Tari, dan Teater yang Sarat Makna

RANAM BANUA” bukan sekadar pentas seni biasa. Drama musikal ini menafsir ulang hubungan manusia dengan alamnya, lewat perpaduan musik sape, tarian tradisional, puisi, dan teater yang dikemas harmonis dan penuh makna.

Penonton diajak menelusuri perjalanan batin manusia Kalimantan — dari kedekatan spiritual dengan hutan dan sungai, hingga jarak yang tercipta karena modernisasi.

Dalam kisah ini, kutukan simbolik memaksa manusia kembali mengenal akar budaya dan menghormati warisan leluhur.

Berbagai hewan endemik Kalimantan seperti enggang, beruang madu, bekantan, dan buaya dihadirkan dalam narasi teater sebagai simbol alam yang resah.

Mereka menjadi pengingat akan keseimbangan yang hilang, sekaligus penjaga nilai-nilai kebudayaan yang nyaris terlupakan.

 

Cinta, Kritik Sosial, dan Pesan Ekologis

Pertunjukan berdurasi hampir dua jam ini membawa pesan kuat: ketika manusia menjauh dari alam dan seninya, sejatinya ia sedang kehilangan dirinya sendiri.

Melalui cerita cinta yang sarat konflik dan kritik sosial, “RANAM BANUA” mengajak penonton untuk merenungi kembali arti keseimbangan hidup.

Visual panggung yang penuh warna dan alunan musik khas Dayak memberi pengalaman emosional yang mendalam.

Tepuk tangan meriah dari ratusan penonton menjadi bukti bahwa karya ini sukses menyentuh hati dan membangkitkan kebanggaan terhadap budaya Kalimantan Timur.

RRI Samarinda dan Komitmen Melestarikan Budaya

Sebagai penyelenggara, LPP RRI Samarinda menegaskan komitmennya dalam memperkuat peran media publik sebagai penjaga identitas bangsa.

Melalui dukungan terhadap karya seperti “RANAM BANUA”, RRI terus membuka ruang ekspresi bagi seniman lokal untuk memperkenalkan kekayaan budaya daerah ke panggung nasional.

Kolaborasi lintas lembaga dan komunitas ini menjadi bukti nyata bahwa pelestarian budaya tak hanya bergantung pada seniman, tetapi juga pada dukungan media, masyarakat, dan institusi yang peduli terhadap seni.

RANAM BANUA adalah panggilan untuk kembali ke alam, kembali ke nilai-nilai, dan kembali ke seni yang menyatukan kita,” demikian pesan penutup yang menggema di akhir pertunjukan. (***)

 

Tag

MORE