ARUSBAWAH.CO - PT Kencana Wilsa buka suara menanggapi laporan Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) Kalimantan Timur (Kaltim) dan sejumlah warga Kampung Geleo Asa, Kecamatan Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat yang dilayangkan ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kaltim.
Perusahaan tambang batu bara itu dituding tidak menjalankan kewajiban reklamasi dan pascatambang pasca habisnya izin usaha pertambangan (IUP) pada 21 Desember 2023 lalu.
JATAM bersama warga Geleo Asa melaporkan PT Kencana Wilsa diduga telah melanggar UU Minerba pasal 96 yang mewajibkan pemegang IUP untuk melakukan reklamasi pasca tambang.
Saat dikonfirmasi, Humas PT Kencana Wilsa, Saradius, perusahaan menegaskan operasi tambang oleh perusahaan belum dihentikan.
“Kami belum tutup. IUP memang sedang dalam proses perpanjangan, dan jetty (Dermaga) kami juga sempat mengalami kekeringan. Di lokasi yang diminta untuk ditutup, masih ada batu bara. Kalau ditutup sekarang, nanti malah kerja dua kali,” ujar Saradius saat diwawancara redaksi Arusbawah.co melalui telepon, Jumat (20/6/2025).
Saradius membantah tudingan PT Kencana Wilsa tidak melakukan reklamasi karena IUP-nya yang berakhir.
“Tidak benar. Kami belum melakukan penutupan. Dari luasan yang disebut-sebut itu, hanya sekitar 8 hektare yang benar-benar kami tambang. Area terbuka lainnya adalah disposal (Pembuangan), bukan lubang tambang. Yang disebut lubang tambang hanya sekitar 60 sampai 80 hektare,” jelasnya.
Menurutnya, proses perpanjangan IUP sedang diurus pihak perusahaan.
Saradius mengatakan kendala PT Kencana Wilsa dalam perpanjang IUP karena sedang membangun jetty (dermaga) dan jalan baru.
"Iya, sedang dalam proses. Tapi kami masih terkendala jetty. Saat ini sedang dibangun jetty baru dan jalan baru. Nantinya akan ada kontribusi untuk masyarakat, termasuk urusan lahan agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari,” ujarnya.
Kemudian, soal tudingan penyerobotan lahan milik warga bernama Korneles Detang, Saradius menegaskan lokasi tambang berada di wilayah Muara Asa, bukan Geleo Asa.
“Kalau menyebut nama seperti korneles atau Detang, saya tidak tahu. Tidak pernah ada data bahwa lahan milik Korneles diserobot. Kami sudah verifikasi. Kalau memang ada klaim, saya juga ingin tahu lahannya yang mana yang diserobot?,” tanyanya.
Soal lahan pertanian, sawah dan perkebunan milik warga Geleo Asa ikut diserobot juga dibantah pihak PT Kencana Wilsa.
“Tidak ada. Lahan yang kami kelola murni milik kampung Muara Asa. Semua proses dilakukan dengan bertemu langsung masyarakat, tidak ada masalah,” tegasnya lagi.
Saradius juga menampik tudingan masyarakat tidak pernah menerima bantuan CSR.
Ia menyebut beberapa program telah dijalankan, seperti pembangunan jembatan dan bantuan keagamaan di kawasan Muara Asa.
"Kami sudah ada realisasi seperti pembangunan jembatan dan bantuan keagamaan. Itu sudah kami lakukan, terutama di kawasan Muara Asa, bukan Geleo Asa," katanya.
Tag



