ARUSBAWAH.CO - Di tengah denyut pembangunan Samarinda sebagai kota penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), umat Hindu di Kota Tepian bersiap menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 dengan pesan yang lebih luas dari sekadar ritual keagamaan.
Tahun ini, tema “Vasudhaiva Kutumbakam” diangkat—sebuah filosofi kuno yang menegaskan bahwa seluruh penghuni bumi adalah satu keluarga.
Di tengah perubahan besar yang terjadi di Kalimantan Timur, pesan ini terasa semakin relevan: tentang bagaimana perbedaan tak lagi jadi sekat, melainkan jembatan untuk menjaga harmoni bersama.
Hening yang Tak Sekadar Sunyi
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Samarinda, I Putu Suberata, menegaskan bahwa Nyepi bukan sekadar momen berhenti dari aktivitas.
Lebih dari itu, hening adalah bentuk kepedulian terhadap bumi.
“Saat kami menghentikan aktivitas dan perjalanan, itu bukan hanya untuk diri sendiri. Itu adalah ruang bagi bumi untuk bernapas,” ujarnya.
Bagi umat Hindu, konsep Catur Brata Penyepian bukan sekadar ritual, tapi refleksi mendalam tentang relasi manusia dengan alam—bahwa apa yang dilakukan manusia hari ini akan berdampak pada masa depan bumi yang sama-sama dihuni.
Dari Sungai Mahakam hingga Hening Total
Rangkaian Nyepi di Samarinda dimulai dari ritual penyucian hingga perenungan total.
Semuanya terpusat di Pura Jagat Hita Karana.
Tag



