Pemilik lahan mengeluarkan sekitar Rp12 juta untuk membangun dudukan kereta. Warga lain kemudian ikut membantu sesuai kemampuan. Ada yang menyumbangkan semen, pasir, maupun tenaga.
"Yang punya tanah ini membangun tempat keretanya sekitar Rp12 juta. Yang lain ikut bantu, ada yang kasih semen, pasir, macam-macam," ujar Aceng saat ditemui, Sabtu (18/7/2026).
Sejak itu, kereta gantung menjadi penghubung utama warga.
Bukan hanya anak-anak yang memanfaatkannya untuk pergi ke sekolah.
Orang dewasa juga menggunakannya untuk bekerja, berbelanja, hingga membawa kebutuhan sehari-hari.
Saat Sungai Berubah
Keberadaan kereta gantung memang memudahkan warga. Namun, kemudahan itu selalu dibarengi risiko.
Saat musim hujan datang, debit sungai meningkat dan arus menjadi lebih deras. Dalam kondisi seperti itu, kereta gantung pernah berhenti di tengah sungai karena tertahan arus.
Di dalamnya terdapat anak-anak yang hendak berangkat sekolah.
Warga yang melihat kejadian itu segera datang membantu hingga kereta akhirnya bisa bergerak kembali ke tepi.
"Kalau banjir kereta bisa berhenti di tengah karena menerjang air. Anak-anak sudah di tengah sungai. Airnya bisa selutut. Untung waktu itu banyak warga yang membantu," kata Aceng.
Sungai yang mereka seberangi juga dikenal sebagai habitat buaya.
Tag



