ARUSBAWAH.CO - Di tengah gencarnya kampanye transisi energi dan pengembangan energi baru terbarukan, Kalimantan Timur masih mengandalkan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) sebagai tulang punggung pasokan listrik.
Data sektor energi menunjukkan kapasitas PLTU di Kalimantan Timur justru mengalami peningkatan dalam lima tahun terakhir.
Sementara beberapa jenis pembangkit lain mengalami fluktuasi, listrik berbasis batu bara tetap menjadi sumber energi utama yang menopang kebutuhan rumah tangga, industri, hingga kawasan strategis nasional seperti Ibu Kota Nusantara (IKN).
Berdasarkan data Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalimantan Timur, kapasitas PLTU saat ini mencapai 833,05 MW dengan jumlah 21 unit pembangkit yang beroperasi.
Angka tersebut menjadikan PLTU sebagai pembangkit dengan kapasitas terbesar kedua setelah PLTD secara historis, namun saat ini menjadi tulang punggung utama sistem kelistrikan yang terhubung ke jaringan besar di Kalimantan Timur.
Kapasitas PLTU Naik Lebih dari 50 Persen
Jika melihat perkembangan dalam lima tahun terakhir, kapasitas PLTU mengalami kenaikan cukup signifikan.
Pada periode awal data, kapasitas PLTU tercatat berada di angka 544 MW dengan 17 unit pembangkit.
Sempat turun menjadi 483,5 MW, kapasitas tersebut kemudian meningkat menjadi 648,05 MW sebelum akhirnya mencapai 833,05 MW seperti saat ini.
Artinya, dalam rentang lima tahun terakhir terjadi penambahan kapasitas sekitar 289 MW atau naik lebih dari 53 persen dibandingkan posisi awal.
Tidak hanya kapasitasnya yang bertambah, jumlah unit PLTU juga meningkat dari 17 unit menjadi 21 unit pembangkit.
Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa batu bara masih menjadi sumber energi yang paling diandalkan untuk menjaga keandalan pasokan listrik di Kalimantan Timur.
PLTG Mengalami Lonjakan Kapasitas
Selain PLTU, pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) juga mengalami perkembangan cukup signifikan.
Pada awal periode, kapasitas PLTG hanya berada di angka 94 MW dengan 19 unit pembangkit.
Namun dalam beberapa tahun terakhir kapasitasnya melonjak menjadi 430,06 MW dengan total 23 unit pembangkit.
Meski pertumbuhannya cukup tinggi, kapasitas PLTG saat ini masih berada sekitar separuh dari kapasitas PLTU yang mencapai 833,05 MW.
Data ini menunjukkan bahwa gas mulai mengambil peran lebih besar dalam bauran energi Kaltim, meski belum mampu menggeser dominasi batu bara.
Jumlah PLTD Banyak, Tapi Kapasitas Menurun
Fenomena menarik justru terlihat pada pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD).
Jumlah unit PLTD menjadi yang paling banyak dibanding jenis pembangkit lainnya.
Dalam beberapa tahun terakhir jumlahnya bahkan sempat mencapai 192 unit sebelum turun menjadi 82 unit.
Namun dari sisi kapasitas, PLTD mengalami penurunan cukup drastis.
Pada awal periode, kapasitas PLTD tercatat mencapai 1.065 MW.
Angka tersebut kemudian turun tajam menjadi sekitar 203 MW pada periode terbaru.
Penurunan ini menunjukkan bahwa meskipun masih digunakan, terutama di wilayah terpencil dan belum terjangkau jaringan listrik utama, peran PLTD mulai berkurang seiring berkembangnya sistem kelistrikan yang lebih efisien dan terintegrasi.
Transisi Energi Masih Menjadi Tantangan
Data tersebut memperlihatkan bahwa sistem kelistrikan Kalimantan Timur masih sangat bergantung pada energi fosil.
PLTU berbasis batu bara tetap menjadi pembangkit utama dari sisi kapasitas terpasang. Di sisi lain, PLTG mulai tumbuh sebagai alternatif yang lebih rendah emisi, sementara penggunaan PLTD perlahan menurun.
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi Kalimantan Timur yang tengah didorong menjadi salah satu pusat transisi energi nasional, terlebih dengan hadirnya IKN dan berbagai proyek energi hijau yang mulai bermunculan.
Salah satunya adalah pembangunan PLTA Batoq Kelo di Kabupaten Mahakam Ulu yang memiliki kapasitas 300 MW.
Jika beroperasi sesuai target pada 2030, pembangkit tenaga air tersebut berpotensi menjadi salah satu sumber energi terbarukan terbesar di Kalimantan Timur.
Namun hingga saat ini, berdasarkan data lima tahun terakhir, satu kesimpulan masih terlihat jelas: listrik Kalimantan Timur masih bertumpu pada PLTU, dan batu bara masih menjadi pemain utama dalam sistem kelistrikan daerah.
Data Pembangkit Listrik di Kaltim Tahun Update hingga Akhir 2025
1. PLTU Jadi Pembangkit dengan Kapasitas Terbesar
Jumlah unit: 21 PLTU
Kapasitas terpasang: 833,05 MW
2. PLTG Berada di Posisi Kedua
Jumlah unit: 23 PLTG
Kapasitas terpasang: 430,06 MW
3. PLTD Masih Banyak Digunakan di Daerah Tertentu
Jumlah unit: 82 PLTD
Kapasitas terpasang: 203,06 MW
Total Kapasitas Listrik Tiga Jenis Pembangkit
Jika digabungkan, total kapasitas pembangkit listrik utama di Kalimantan Timur mencapai sekitar:
Dari total tersebut, PLTU menyumbang sekitar 56,8 persen kapasitas pembangkit yang tersedia.
- PLTA Batoq Kelo 300 MW Dibangun, Setara Sepertiga Kapasitas PLTU di Kaltim
- Benarkah PLTA Mentarang Malinau Rendah Karbon? Simak Fakta di Balik Proyek Raksasa Digroundbreaking Jokowi
- Ini Orang Indonesia Pertama yang Sejajar dengan Harrison Ford dalam Daftar Tokoh Dunia
- 5 Request Orang Muda Demi Bumi Lebih Bersih




