ARUSBAWAH.CO - Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) mulai menulis sejarah baru dalam sektor energi Kalimantan Timur.
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batoq Kelo berkapasitas 300 megawatt (MW) resmi memulai pembangunan melalui peletakan batu pertama yang dilakukan di Pendopo Odah Etam, Samarinda.
Proyek senilai Rp13 triliun tersebut menjadi PLTA berskala besar pertama di Kalimantan Timur. Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, pembangkit ini ditargetkan mulai beroperasi pada 2030.
Groundbreaking dilakukan oleh Utusan Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim S. Djojohadikusumo bersama Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas'ud, Wakil Gubernur Seno Aji, Bupati Mahulu Angela Idang Belawan, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya.
Di balik seremoni tersebut, ada pertanyaan yang lebih besar: seberapa besar dampak PLTA Batoq Kelo terhadap ketergantungan Kalimantan Timur pada listrik berbasis batu bara?
Batu Bara Masih Jadi Tulang Punggung Kelistrikan Kaltim
Data Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalimantan Timur menunjukkan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) masih mendominasi sumber energi listrik di provinsi ini.
Tag



