Arus Publik

LPTQ Kaltim

Dari Lomba Azan ke MTQ Nasional, Perjalanan Rifqi Menjadi Qori Muda Kaltim

Rabu, 25 Maret 2026 21:41

POTRET - Muhammad Rifky Ikhsani Raditian (ISTIMEWA)

ARUSBAWAH.CO -  Lantunan ayat suci Al-Qur’an sudah akrab di telinga Muhammad Rifky Ikhsani Raditian sejak kecil.

Dari kebiasaan sederhana mendengar murotal di rumah, remaja 18 tahun asal Kalimantan Timur itu kini menapaki panggung tilawah tingkat nasional dengan segudang pengalaman dan prestasi.

Perjalanan Rifqi dalam menekuni Al-Qur’an tidak berlangsung instan.

Ia menjalaninya sejak usia dini, bertumbuh dari kebiasaan sederhana di lingkungan keluarga hingga akhirnya terbentuk melalui proses panjang dan latihan yang disiplin.

“Awalnya cuma dengar murotal syekh-syekh besar, lama-lama jadi tertarik dan ingin belajar lebih dalam,” ujarnya saat diwawancarai Arusbawah.co, Rabu (25/03/2026).

Tumbuh dari Kebiasaan di Rumah

Ketertarikan Rifqi terhadap Al-Qur’an mulai tumbuh sejak usia 7 tahun, ketika ia terbiasa mendengar lantunan murotal yang diputar orang tuanya di rumah maupun di mobil.

Paparan itu membuatnya perlahan akrab dengan ayat-ayat suci dan menumbuhkan rasa ingin belajar lebih dalam sejak kecil.

“Sering diputar sama orangtua di rumah sama di mobil, jadi dari situ mulai suka,” katanya.

Proses belajarnya pun berlanjut saat ia mulai menghafal Al-Qur’an di usia 9 tahun, dimulai dari Juz 30.

Sejak itu, menghafal dan murojaah perlahan jadi bagian dari rutinitas hariannya.

“Saya mulai menghafal itu umur 9 tahun, dari Juz 30 dulu,” ujarnya.

Kebiasaan murojaah yang ditanamkan di keluarganya ikut memperkuat proses itu. Setiap selesai salat fardu, ia bersama saudaranya rutin mengulang hafalan agar tetap terjaga.

“Setiap habis salat pasti murojaah. Dorongan orang tua juga. Ibu saya bilang, kalau nggak ada suara Al-Qur’an di rumah, rasanya sepi” tuturnya.

Terinspirasi Keluarga dan Kakak

Lingkungan keluarga jadi tempat pertama yang membentuk kebiasaan Rifqi dengan Al-Qur’an.

Sejak kecil, orang tuanya sudah membiasakan disiplin, terutama soal membaca dan menghafal, yang perlahan jadi rutinitas sehari-hari baginya.

“Orang tua selalu mengingatkan untuk murojaah terus,” katanya.

Selain itu, sosok kakaknya yang lebih dulu terjun ke dunia tilawah juga menjadi inspirasi besar dalam perjalanan Rifqi.

Ia mengaku banyak belajar dan termotivasi dari apa yang dilakukan sang kakak.

“Saya lihat kakak duluan, jadi ikut termotivasi,” ujarnya.

Tag

MORE