ARUSBAWAH.CO - Di tengah derasnya arus informasi yang mengalir melalui media sosial dan berbagai platform digital, kemampuan masyarakat untuk memilah informasi menjadi semakin penting.
Kesadaran itu pula yang melatarbelakangi pelaksanaan Penguatan Demokrasi Daerah (PDD) ke-5 yang digelar Anggota DPRD Kalimantan Timur, Didik Agung Eko Wahono, di Balai Pertemuan Umum (BPU) Desa Kerta Buana, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara, Sabtu (13/6/2026).
Mengangkat tema "Teknologi Informasi untuk Efektivitas Pengawasan Publik dan Demokrasi Digital", kegiatan tersebut menghadirkan narasumber Sutardi dan Muhammad Miftah Murdhah, dengan dipandu moderator Mohammad Yasin.
Bagi masyarakat desa, perkembangan teknologi informasi tidak lagi menjadi sesuatu yang jauh.
Melalui telepon genggam yang dimiliki hampir setiap warga, informasi tentang kebijakan pemerintah, pelayanan publik, hingga dinamika politik dapat diakses hanya dalam hitungan detik.
Namun di balik kemudahan itu, muncul tantangan baru berupa penyebaran informasi yang belum tentu benar.
Karena itu, literasi digital dinilai menjadi bekal penting agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang menyesatkan.
Dalam forum tersebut, peserta diajak memahami bahwa demokrasi digital bukan hanya soal kebebasan menyampaikan pendapat di media sosial. Lebih dari itu, teknologi dapat menjadi sarana bagi masyarakat untuk mengawasi jalannya pemerintahan, menyampaikan aspirasi, hingga ikut berpartisipasi dalam proses pembangunan.
Kegiatan yang digagas Didik Agung Eko Wahono ini juga menjadi ruang dialog antara masyarakat dan para narasumber mengenai berbagai perubahan yang terjadi dalam kehidupan demokrasi saat ini.
Di era ketika informasi bergerak lebih cepat dibanding sebelumnya, kemampuan warga untuk memahami, memverifikasi, dan menggunakan informasi secara bijak menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas demokrasi.
Melalui Pendidikan Demokrasi Daerah tersebut, masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga mampu menjadi warga yang aktif, kritis, dan berperan dalam pengawasan publik melalui berbagai saluran digital yang tersedia.
Dari sebuah balai pertemuan di Desa Kerta Buana, diskusi mengenai demokrasi digital itu mengingatkan bahwa penguatan demokrasi tidak selalu dimulai dari ruang-ruang besar, tetapi juga dari percakapan sederhana di tengah masyarakat yang ingin lebih memahami perubahan zaman. (red)




