“Sekarang kalau bisa dapat Rp12 juta sampai Rp13 juta per bulan itu sudah bagus,” katanya.
Menurut Puji, penurunan mulai terasa sejak sekitar 2016, bersamaan dengan melemahnya ekonomi dan munculnya minuman kekinian.
Pandemi Covid-19 turut memperberat kondisi, meski di beberapa momen sempat terjadi lonjakan penjualan.
Meski kondisi tak lagi seperti dulu, Puji memilih bertahan.
Bukan hanya karena kebutuhan ekonomi, tapi juga karena keyakinan pribadi.
“Kita bertahan saja. Bos juga bilang sambil ibadah. Jadi ya dijalani,” ucapnya.
Tetap Setia pada Resep Klasik
Es serut yang dijual tetap menggunakan gula asli, tanpa pemanis buatan.
Puji menilai, kualitas bahan menjadi alasan pelanggan lama masih setia.
“Kalau pakai pemanis itu enggak tahan, orang bisa batuk. Kita pakai gula asli,” jelasnya.
Harga Dijaga Demi Pelanggan Lama
Dalam sehari, penjualan normal berkisar 30 gelas, sangat bergantung pada cuaca.
Saat hujan, jumlah pembeli menurun drastis.
Tag



