Ia juga menyebut petugas sempat menelepon beberapa pihak, namun tidak mendapat respons.
“Petugas sempat nelpon dokter, katanya tidak ada respon. Telpon relawan juga, tapi relawannya tidak bisa datang. Mereka sibuk dengan tabung oksigen, pakai kunci-kunci, tapi tetap kosong. Padahal anak saya sudah kejang-kejang,” tuturnya.
Ambulans Tak Bisa Digunakan, Bayi Dirujuk dengan Kendaraan Pribadi
Selain oksigen yang kosong, keluarga juga tidak bisa menggunakan ambulans karena sopir tidak berada di tempat.
Kondisi itu membuat Tahir dan keluarga memutuskan membawa sang bayi menggunakan kendaraan pribadi milik tetangganya ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Moeis Samarinda.
“Kami inisiatif sendiri bawa ke RS Abdul Moeis. Di perjalanan masih ada gerak-gerak sedikit. Tapi belum sampai dekat pom bensin, anak saya sudah tidak ada respon. Sudah biru,” kata Tahir dengan suara bergetar.
Bayi Meninggal di Perjalanan Menuju RSUD Abdul Moeis
Sesampainya di RSUD Abdul Moeis, dokter sempat melakukan tindakan medis.
Namun, menurut Tahir, kondisi anaknya sudah sangat kritis.
“Kata dokter pertama yang lihat, anak ini sudah biru. Sudah tidak ada respon. Disuntik, ditekan dadanya, tapi tidak ada perubahan. Tidak sampai lima menit, kami dipanggil dan disampaikan anak kami sudah tidak ada,” ujarnya.
Tahir meyakini anaknya meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Ia menyayangkan kondisi fasilitas di Puskesmas Batuah yang ia inilai tidak siap menangani pasien darurat.
Keluarga Tempuh Jalur Hukum, Sebut Adanya Dugaan Kelalaian Puskesmas Batuah
Sementara itu, penasihat hukum keluarga korban, Titus Tibayan Pakalla, menyatakan pihaknya mendampingi Muhammad Tahir untuk menempuh jalur hukum.
Tag



